FOTO: ILUSTRASI
SMARTNEWS.ID – Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Perumnas Way Halim, Kota Bandar Lampung, diisukan oleh oknum masyarakat dengan menyebutkan pihak sekolah diduga menjual buku lembar kerja siswa (LKS) kepada siswa.
Dugaan yang kini terlanjur disiarkan oleh salah satu situs berita online, itu dibantah oleh wakil kepala satuan pendidikan setempat, Dessy Ratna Sari, S.Pd. Menurut dia, sekolah tidak pernah menjual LKS, terlebih dengan nilai nominal tertentu.
“Kemarin ada mengaku wartawan menghubungi saya menanyakan penjualan LKS. Sudah saya jawab, sekolah tidak menjual LKS. Namun informasi yang saya sampaikan, tidak sesuai dengan berita dimuat, justru seperti penggiringan opini,” sesal dia, Rabu, 4 Februari 2026.
Kesempatan itu, ia kembali meluruskan bahwa peristiwa sesungguhnya yang terjadi yakni pada beberapa waktu lalu pernah ada kegiatan bazar atau pameran buku dari salah satu penerbit yang dilakukan di sekitar sekolah.
Pada bazar tersebut, lanjut dia, pihak penerbit menawarkan buku LKS dari berbagai mata pelajaran sebagai bahan ajar mandiri siswa di rumah. Kesempatan itu, memang ada sejumlah siswa dan wali murid yang membeli buku-buku tersebut.
“Jadi yang menjual (buku LKS) itu adalah penerbit langsung saat dilakukan bazar dilakukan di luar pagar sekolah. Kalaupun ada siswa atau wali murid yang membeli buku tersebut, itu dilakukan secara sukarela tanpa ada paksaan dari sekolah,” jelas dia.
Ia mengatakan, bila ada siswa atau wali murid yang keberatan atas penawaran buku LKS dari penerbit pada saat waktu itu, seharusnya tidak untuk membelinya. Sehingga, tidak menimbulkan miskonsepsi di tengah warga sekolah.
“Pembelian buku LKS tidak diwajibkan. Sebab, sekolah menyediakan buku teks pelajaran bagi siswa sebagai panduan pembelajaran siswa di sekolah,” kata dia seraya meminta masyarakat untuk tidak lagi mengisukan hal-hal tidak benar tentang sekolah.
Rangking Satu
Sementara itu, salah satu wali murid SDN 2 PWH Reflina, membenarkan bahwa pernah ada penerbit menawarkan buku kepada siswa dan wali murid di lingkungan sekolah. Bahkan, saat itu, ia mengaku membeli buku LKS untuk bahan ajar mandiri di rumah.
“Terus terang saya sendiri waktu itu juga membelinya, bahkan ada enam buku LKS dari berbagai mata pelajaran. Buku itu ditawarkan oleh penerbit saat ada kegiatan bazar, jadi bukan sekolah yang menjualnya,” tegas dia yang mengaku sebagai wali murid kelas 5 itu.
Ia mengaku, buku-buku tersebut sangat membantu proses pembelajaran anaknya saat belajar rumah. “Buku itu sangat berguna untuk pembelajaran tambahan di rumah. Bahkan semester kemarin, anak saya memperoleh rangking satu di kelas,” tutur dia. (***)