Ekonomi & Bisnis

Lapis Legit dan Sekubal Kekayaan Kuliner Lampung Ritual Pulang Kampung

DOK

SMARTNEWS.ID – Lapis Legit dan Sekubal menjadi simbol kuliner khas Lampung yang mampu membawa kehangatan kampung halaman ke Ibu Kota Jakarta.

Hayani (54) pemilir paruh baya asal Desa Mulang Maya, Lampung Utara, selalu menyisakan ruang di kopernya untuk membawa sekotak lapis legit dan sekubal setiap kali pulang ke Petukangan, Jakarta Selatan.

Bagi wanita paruh baya ini tradisi membawa oleh-oleh bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara merawat ikatan dengan keluarga dan tetangga di perantauan.

“Ini oleh-oleh yang selalu saya bawa dari kampung. Sesampai di Jakarta, saya bagi-bagikan ke tetangga,” ujar Hayani saat ditemui di Terminal Rajabasa, Kota Bandar Lampung pada Jumat, 4 April 2025.

Hayani yang ditemani kedua anak gadisnya mengaku perjalanan mudik Lebaran tahun ini terasa sangat istimewa bagi dirinya.

Ia dan keluarga besarnya berkumpul dengan sanak saudara di Lampung, menikmati seruit, hidangan khas berbahan ikan bakar dengan sambal terasi, sebagai bentuk syukur sekaligus nostalgia.

“Momen makan seruit bareng keluarga besar itu yang bikin rindu,” kata Hayani sumringah.

Usai menikmati libur Lebaran di kampung halaman, hari ini, Hayani pulang ke Jakarta membawa Lapis Legit dan Sekubal.

Tak sekadar membawa makanan, Hayani ingin memperkenalkan kekayaan kuliner Lampung kepada kerabat di Jakarta.

Tradisi ini telah ia jalani bertahun-tahun, bahkan menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual pulang kampungnya.

“Biar mereka yang di Jakarta juga merasakan kehangatan Lampung,” tutur Hayani.

Hayani dan anak-anaknya memilih pulang ke Jakarta lebih awal setelah Lebaran untuk menghindari kepadatan arus balik.

Meski singkat, kebersamaan selama beberapa hari di kampung halaman ia manfaatkan untuk mengisi ulang semangat sebelum kembali ke rutinitas di ibu kota.

“Yang penting bisa seruit bareng keluarga. Itu sudah bikin bahagia,” ujar dia.

Dia menekankan bahwa mudik bukan hanya tentang pulang kampung, soal jarak yang ditempuh, tapi juga tentang membawa pulang kenangan dan mempertahankan rasa rumah di perantauan, meski hanya lewat sepotong kue atau sepiring hidangan khas. (JOS)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close