ISTIMEWA
SMARTNEWS.ID – Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., M.H, menyebut program “Bank Sampah Sekolah” yang berjalan di sejumlah SMA/SMK, merupakan langkah produktif menyelesaikan masalah sampah di lingkungan sekolah.
Hal itu disampaikan Thomas saat membuka kegiatan stadium generale serta serah terima sarana dan prasarana dari Bank Mandiri, serta launching sistem informasi digital bank sampah, di SMAN 9 Bandar Lampung, Rabu, 28 Januari 2026.
Pilot project program bank sampah yang dilaksanakan oleh lima SMA/SMK di Kota Bandar Lampung, meliputi SMAN 1, SMAN 2, SMAN 9, SMKN 1, dan SMKN 4, kata dia, juga merupakan salah satu metode dalam menyelesaikan hal tersebut.
“Sampah di Kota Bandar Lampung mencapai 100 ton per hari. Hingga kini belum ada metode yang baik menyelesaikan persoalannya. Mudah-mudahan langkah produktif ini, pelan-pelan menyelesaikan persoalan sampah di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Ia mengatakan, program yang menjadi kerja sama antara Pemerintah Provinsi Lampung, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Rumah Inspirasi Sabahat Gajah, dan pihak perbankan, juga dapat menciptakan lingkungan sekolah hijau, sehat, dan nyaman.
“Kalau sekolah mau melangkah maju dan tumbuh ke depan, salah satunya berkerja sama dan berkolaborasi dengan para pihak,” katanya seraya berharap program bank sampah ini juga bisa diadopsi oleh sekolah lain di Provinsi Lampung.
Karya Bernilai Ekonomi
Sementara itu, Kepala SMAN 9 Bandar Lampung Dra. Hayati Nufus, M.Pd, mengatakan program bank sampah merupakan kepedulian dan tanggung jawab terhadap pelestarian lingkungan, serta mendorong pemahaman bahwa sampah bukan semata limbah melainkan sumber daya yang dapat dikelola dan diberdayakan menjadi karya bernilai ekonomi.
“Seperti kursi sofa hasil karya siswa ini, di dalamnya adalah dari sampah-sampah yang dikemas dan bentuk ecobrick. Satu kursi ini membutuhkan 19 botol plastik bekas air minum kemasan dan 4-5 karung sampah plastik,” ujar dia.
Ia menilai, program bank sampah tersebut sangat bermanfaat bagi siswa khususnya tentang bagaimana kepedulian dalam penyelesaian sampah. “Meski awalnya sulit, namun pada akhirnya para siswa kini sudah peduli terhadap sampah,” katanya.
Tak hanya itu, dari sisi ekonomi katanya hasil dari pengelolaan sampah yang baik juga bisa menghasilkan sejumlah uang dari penjualan produk yang dihasilkan. Kemudian, uang tersebut dapat disimpan pada bank untuk kebutuhan siswa.
“Dari 1.108 siswa, alhamdulillah sekitar 400 siswa kelas 10 dan 11 sudah membuka tabungan di Bank Mandiri. Sedangkan siswa kelas 12 sedang dalam proses (menabung) yang nanti uangnya bisa digunakan untuk kuliah,” jelasnya.
Bentuk Karakter
Kemudian, Branch Manager Bank Mandiri Bandar Lampung Malahayati, Muhammad Yusuf, mengatakan program bank sampah di satuan pendidikan dapat membentuk karakter siswa untuk menjaga lingkungan, pelestarian alam, dan kebersihan lingkungan.
Generasi tersebut, kata dia, juga pada lima tahun mendatang akan menjadi tulang punggung yang baik bagi Provinsi Lampung maupun Indonesia. “Terlebih dari kita ini banyak juga yang berkarir atau berkontribusi di luar Lampung,” katanya.
Kesempatan itu, ia juga mengajak para siswa yang mengikuti program bank sampah memiliki literasi terhadap perbankan. “Selama ini yang diketahui bank hanya tempat menabung saja, padahal banyak sekali hal yang bisa diketahui,” tuturnya.
Diketahui, kegiatan tersebut juga dihadiri Deputi Direktur OJK Lampung, Eti Elyati; Kepala Bidang Pembinaan SMA Disdikbud Lampung, Azah Rawan Sangun, S.Psi, coca cola, perwakilan mitra perbankan anggota Himbara, dan kepala SMA se-Bandar Lampung. (***)