Pemprov Lampung

Di Balik Berita, Ada Empati: Cara IJP Lampung Merawat Kepedulian

DOK IJP LAMPUNG

SMARTNEWS.ID – Di sebuah sore yang perlahan meredup di Kota Bandar Lampung, suasana hangat mulai terasa di ballroom Emersia Hotel, Selasa, 17 Maret 2026. Bukan sekadar agenda seremonial, pertemuan itu menjelma menjadi ruang perjumpaan – antara profesi, empati, dan harapan.

Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung menggelar buka puasa bersama. Namun, inti dari kegiatan itu bukan hanya pada hidangan yang tersaji menjelang azan magrib, melainkan pada momen ketika puluhan anak yatim duduk bersisian dengan para jurnalis – orang-orang yang sehari-hari akrab dengan fakta, tetapi sore itu larut dalam rasa.

Di antara riuh yang tertahan, satu per satu anak menerima santunan: amplop berisi uang tunai dan paket alat tulis. Bagi sebagian orang mungkin sederhana, tetapi bagi mereka, itu adalah tanda bahwa ada yang peduli, ada yang melihat.

Perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung, Kepala Dinas Kominfotik Ganjar Jationo, menyebut IJP bukan sekadar organisasi profesi. Ia melihatnya sebagai ruang bertumbuhnya gagasan, tempat para jurnalis tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga ikut menyuarakan arah pembangunan.

Namun makna terdalam justru datang dari Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa. Baginya, kegiatan seperti ini adalah pengingat tentang makna “ikatan” itu sendiri.

“IJP itu bukan hanya nama. Huruf ‘I’ adalah Ikatan. Artinya kita harus saling menguatkan,” ujarnya pelan, namun tegas.

Abung memahami betul bahwa dunia jurnalistik kerap keras dan kompetitif. Setiap hari, para jurnalis berpacu dengan waktu, mengejar akurasi, dan menjaga independensi. Tetapi di balik semua itu, ada kebutuhan untuk tetap manusiawi—untuk tetap memiliki ruang berbagi.

Melalui kegiatan santunan anak yatim ini, ia ingin menanamkan bahwa solidaritas tidak hanya berlaku antaranggota, tetapi juga meluas ke masyarakat. Bahwa jurnalis tidak hanya hadir saat meliput kesedihan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun bentuknya.

Sore itu, tausiah yang disampaikan ustaz semakin mempertegas makna berbagi. Tentang bagaimana tangan yang memberi tidak akan berkurang nilainya, justru bertambah dalam keberkahan.

Menjelang waktu berbuka, suasana hening sejenak. Doa-doa dipanjatkan – oleh anak-anak, oleh para jurnalis, oleh semua yang hadir. Mungkin doa yang berbeda, tetapi dengan harapan yang sama: kehidupan yang lebih baik.

Di tengah derasnya arus informasi yang kerap dipenuhi konflik dan sensasi, kegiatan seperti ini menjadi oase kecil. Mengingatkan bahwa di balik setiap berita, ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus terus dijaga.

Dan di Emersia Hotel sore itu, para jurnalis membuktikan bahwa mereka tidak hanya pandai menulis cerita – tetapi juga mampu menjadi bagian dari cerita itu sendiri. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close