Pendidikan

JAPFA for Kids Dampingi 13.400 Siswa di Lampung Bangun Budaya Hidup Sehat


SMARTNEWS.ID – Upaya meningkatkan kualitas gizi anak tidak cukup hanya dengan menyediakan makanan bergizi. Edukasi kepada siswa, guru, dan orang tua dinilai menjadi kunci membentuk kebiasaan hidup sehat sejak usia dini.

Komitmen tersebut diwujudkan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) melalui program JAPFA for Kids yang kembali digelar di SD Negeri 1 Budidaya, Kecamatan Sidomulyo, Kabupaten Lampung Selatan, Minggu, 2 Agustus 2026.

Di sekolah tersebut, sebanyak delapan dari 186 siswa mendapatkan pendampingan khusus setelah hasil pemantauan menunjukkan mereka mengalami masalah gizi. Pendampingan dilakukan oleh dua fasilitator gizi, Tamara dan Debora, melalui edukasi mengenai gizi seimbang, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), serta pemantauan pertumbuhan anak.

Program tersebut tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan guru dan orang tua agar pola hidup sehat dapat diterapkan secara berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan JAPFA for Kids merupakan program jangka panjang yang berfokus pada peningkatan kualitas gizi anak melalui edukasi dan pendampingan.

Menurutnya, program tersebut mengajarkan empat pilar gizi seimbang, membiasakan aktivitas fisik melalui Hari Sehat JAPFA, melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara digital, melatih guru, serta mendampingi orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.

“Hasil pendampingan menunjukkan lebih dari separuh anak yang sebelumnya mengalami gizi kurang berhasil mencapai status gizi baik pada 2024. Pada 2025, tingkat keberhasilannya meningkat menjadi 62,5 persen,” katanya.

Lampung menjadi salah satu daerah pertama pelaksanaan JAPFA for Kids sejak 2008. Hingga 2026, program tersebut telah menjangkau 69 sekolah dengan lebih dari 13.400 siswa di berbagai kabupaten di Provinsi Lampung.

Tahun ini, sebanyak 15 sekolah di Lampung kembali mengikuti program tersebut dengan melibatkan 2.051 siswa dan 165 guru.

Fasilitator gizi JAPFA, Debora, mengatakan keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya telur yang dibagikan, melainkan dari perubahan perilaku anak dan keluarga dalam menerapkan pola hidup sehat.

Ia mencontohkan, anak-anak mulai terbiasa mencuci tangan sebelum makan, menjaga kebersihan diri, hingga memilih makanan yang lebih bergizi tanpa harus diingatkan.

“Perubahan itu memang tidak terjadi dalam waktu singkat, tetapi dimulai dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari,” ujarnya.

Perubahan juga dirasakan para orang tua. Rafika, salah seorang wali murid, mengaku kini anaknya mulai terbiasa mengonsumsi telur dan menu makan di rumah menjadi lebih beragam setelah mengikuti pendampingan.

Sementara Widi Astuti mengaku mendapat pemahaman baru bahwa pemenuhan gizi anak tidak hanya diukur dari banyaknya makanan yang dikonsumsi, tetapi juga dari keseimbangan kandungan gizinya.

Camat Sidomulyo, Fran Sinarta Adung, mengapresiasi keterlibatan dunia usaha dalam mendukung peningkatan kualitas gizi anak.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, sekolah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi langkah penting untuk memperkuat berbagai program peningkatan gizi, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Perbaikan gizi anak membutuhkan kerja bersama. Edukasi kepada keluarga sama pentingnya dengan penyediaan makanan bergizi agar kebiasaan hidup sehat dapat terus berlanjut,” katanya. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close