Perguruan Tinggi

Mahasiswa Unila Ciptakan Drone Kumbang Penyelamat Kebun Kopi Lampung


SMARTNEWS.ID – Di tengah hamparan perkebunan kopi Kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus, harapan baru tumbuh dari tangan-tangan muda mahasiswa Universitas Lampung (Unila). Saat banyak petani selama ini harus berjibaku menghadapi serangan hama penggerek buah kopi (PBKo) dan penyakit karat daun yang mampu memangkas hasil panen hingga setengahnya, sekelompok mahasiswa justru datang membawa solusi yang tidak biasa: sebuah drone berbentuk kumbang.

Inovasi tersebut lahir dari Program Kreativitas Mahasiswa Karya Inovatif (PKM-KI) Unila 2026. Lima mahasiswa lintas disiplin ilmu yang dipimpin Rafidto Farras Achdiar Azizul Haqqi bersama Ariq Hazel, Gita Rahmania, Bayu Dwi Setiawan, dan Elfi Nuraini Maridah berhasil mengembangkan pesawat nirawak berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi serangan hama dan penyakit tanaman kopi secara cepat dan akurat.

Ide sederhana itu berangkat dari kenyataan yang selama ini dihadapi petani. Untuk memeriksa kondisi tanaman, mereka harus berjalan menyusuri perbukitan dan kebun yang luas selama berjam-jam, bahkan berhari-hari. Tidak jarang, ketika gejala penyakit ditemukan, penyebarannya sudah terlanjur meluas dan mengancam panen.

Melalui desain biomimetik menyerupai kumbang, drone tersebut mampu terbang rendah dan masuk ke sela-sela rimbunnya tanaman kopi yang sulit dijangkau drone konvensional. Dengan dukungan teknologi AI, kamera pintar, dan sistem Internet of Things (IoT), alat itu dapat memindai kondisi tanaman dan mengirimkan titik lokasi serangan hama secara real-time kepada petani.

Ketua tim pengembang, Rafidto Farras, mengatakan teknologi tersebut dirancang bukan sekadar untuk kebutuhan penelitian, melainkan sebagai solusi yang benar-benar bisa digunakan di lapangan.

“Kalau sebelumnya petani harus memeriksa tanaman satu per satu secara manual, sekarang inspeksi kebun dapat dilakukan hanya dalam waktu sekitar 15 menit. Tujuannya agar petani bisa lebih cepat mengambil tindakan sebelum kerusakan meluas,” ujarnya, Jumat, 17 Juli 2026.

Lebih menarik lagi, teknologi yang dibangun dengan komponen seperti Raspberry Pi Pico dan GPS Ublox M8N itu dirancang dengan biaya yang relatif terjangkau, yakni sekitar Rp6 juta hingga Rp8 juta per unit. Tim berharap teknologi tersebut dapat diakses lebih luas oleh petani rakyat di masa depan.

Manfaat inovasi itu sudah dirasakan langsung oleh petani kopi di Ulubelu. Salah satunya Sumardi (51), petani kopi yang terlibat dalam uji lapangan. Baginya, teknologi tersebut bukan hanya soal kecanggihan alat, melainkan tentang menjaga harapan dan keberlangsungan hidup keluarga petani.

Menurut Sumardi, keterlambatan mendeteksi hama sering kali berujung pada gagal panen yang berdampak pada kemampuan petani memenuhi kebutuhan keluarga, mulai dari membeli pupuk hingga membiayai pendidikan anak.

Kini, dengan bantuan drone kumbang tersebut, petani dapat mengetahui lebih cepat lokasi tanaman yang terserang penyakit sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kerusakan meluas. Penggunaan pestisida pun menjadi lebih tepat sasaran dan efisien.

Keberhasilan inovasi ini menjadi bukti bahwa perguruan tinggi tidak hanya melahirkan penelitian di atas kertas, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat. Di tangan para mahasiswa, teknologi yang selama ini identik dengan laboratorium dan ruang kelas kini hadir di tengah kebun kopi, membantu petani menjaga hasil panen mereka.

Meski masih menghadapi berbagai tantangan pengembangan, mulai dari integrasi sistem AI hingga kestabilan komunikasi data secara real-time, tim mahasiswa Unila optimistis inovasi tersebut dapat bersaing di tingkat nasional melalui Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2026.

Lebih dari sekadar mengejar prestasi, kisah drone kumbang ini menjadi inspirasi bahwa ilmu pengetahuan memiliki makna ketika mampu menjawab persoalan masyarakat. Dari ruang kuliah menuju lereng perkebunan kopi, para mahasiswa Unila membuktikan bahwa inovasi terbaik adalah inovasi yang mampu mengubah kehidupan banyak orang menjadi lebih baik. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close