Perguruan Tinggi

Menembus Fajar, Perjalanan Sunyi Seorang Ayah Mengantar Mimpi Anak ke UTBK


SMARTNES.ID – Langit masih gelap ketika sepeda motor itu melaju pelan meninggalkan rumah sederhana di Kedondong, Kabupaten Pesawaran. Angin subuh menusuk, jalanan lengang, dan hanya suara mesin yang menemani perjalanan panjang menuju Universitas Lampung.

Di atas motor itu, Sutrisno, seorang buruh tani, membonceng putrinya, Intan Rosmaliana Putri. Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi. Mereka tidak sedang bergegas ke ladang seperti biasanya. Hari itu berbeda. Mereka menuju lokasi UTBK-SNBT 2026, gerbang awal menuju cita-cita yang selama ini diperjuangkan diam-diam.

Bagi Sutrisno, perjalanan itu lebih dari sekadar mengantar anak mengikuti ujian. Itu adalah bagian dari perjuangan panjang seorang ayah yang ingin melihat anaknya melangkah lebih jauh dari dirinya.

Intan adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Dua kakaknya telah memilih bekerja setelah lulus sekolah. Namun, Intan memilih jalan berbeda—ia ingin kuliah. Keinginan itu tumbuh kuat, bahkan menjadi harapan bersama dalam keluarga sederhana tersebut.

“Dari tiga anak, Intan ini yang paling kuat keinginannya buat kuliah. Kakak-kakaknya juga mendukung, bilang terus supaya dia lanjut saja,” ujar Sutrisno, matanya menyiratkan kebanggaan yang sederhana namun dalam.

Ia mengakui, perannya dalam proses pendaftaran tidak besar. Semua diurus sendiri oleh Intan, mulai dari administrasi hingga persiapan ujian. Justru dari situlah rasa bangga itu tumbuh.

“Saya sebagai orang tua sebenarnya tidak banyak bantu urusan pendaftaran, semua dia urus sendiri. Itu yang bikin saya bangga,” katanya, Sabtu, 25 April 2026.

Kesungguhan Intan bukan hal baru bagi keluarga. Sejak lama, ia dikenal rajin belajar, disiplin, dan konsisten menunjukkan prestasi di sekolah. Ia masuk lima besar di kelas, aktif dalam kegiatan Paskibra, dan sering menghabiskan waktu di rumah dengan berlatih soal-soal ujian.

“Anaknya memang punya kemauan besar. Saya lihat dia serius,” tambah Sutrisno.

Perjalanan subuh dari kampung menuju kampus menjadi simbol sederhana dari harapan besar. Di balik dinginnya pagi dan panjangnya jalan, ada doa yang tidak terucap, agar langkah Intan hari itu menjadi awal dari masa depan yang lebih baik.

Di tengah hiruk pikuk pelaksanaan UTBK, kisah seperti ini kerap luput dari perhatian. Padahal, di balik setiap peserta yang duduk di ruang ujian, ada perjuangan sunyi orang tua yang rela melakukan apa saja demi anak-anak mereka.

Perjalanan Sutrisno dan Intan adalah satu dari sekian banyak cerita yang menggambarkan bahwa pendidikan bukan hanya soal ujian dan hasil, tetapi juga tentang harapan, pengorbanan, dan cinta yang berjalan pelan sejak fajar menyingsing. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close