Perguruan Tinggi

ResQ-Net, Inovasi Mahasiswa Unila Buka Harapan Baru Komunikasi Saat Bencana


SMARTNEWS.ID – Ketika jaringan telekomunikasi lumpuh akibat bencana, komunikasi menjadi salah satu tantangan terbesar bagi tim pencarian dan pertolongan. Kondisi tersebut mendorong mahasiswa Universitas Lampung (Unila) menciptakan ResQ-Net, sebuah sistem komunikasi darurat yang dirancang tetap bekerja meski jaringan seluler dan internet tidak tersedia.

Inovasi tersebut dikembangkan mahasiswa yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC). Tim yang diketuai Isna Inun Wulan Sari itu beranggotakan Dafa Farhan Haqiqi, Desta Arya Putra, M. Fahrudin dan Enggal Bima Sakti, dengan bimbingan dosen Indah Khoerunnisa, S.Pd., M.Pd.

ResQ-Net dikembangkan untuk menjawab kebutuhan komunikasi di kawasan blank spot, terutama ketika bencana menyebabkan infrastruktur telekomunikasi mengalami gangguan atau bahkan terputus total.

Ketua Tim PKM-KC ResQ-Net, Isna Inun Wulan Sari, mengatakan sistem tersebut memungkinkan petugas di lapangan tetap bertukar informasi tanpa harus bergantung pada jaringan BTS maupun internet komersial.

“Data koordinat, kondisi personel, dan pesan taktis dapat dikirim antarnode. Jika komunikasi langsung terhalang jarak atau kondisi medan, data akan diteruskan melalui node lain secara estafet hingga mencapai Gateway,” jelas Isna, Rabu, 26 Agustus 2026.

Teknologi yang digunakan mengandalkan radio LoRa 433 MHz dengan pola jaringan mesh multi-hop. Konsep tersebut memungkinkan setiap perangkat menjadi bagian dari jaringan yang saling meneruskan informasi.

Sistem juga dilengkapi GPS dan telemetri untuk memantau posisi serta kondisi personel. Jika salah satu node terputus, mekanisme self-healing akan mencari jalur komunikasi alternatif sehingga jaringan tetap dapat berfungsi.

Keunggulan lainnya terdapat pada sistem Command Center yang bekerja dengan konsep offline-first. Informasi yang diterima Gateway dapat langsung ditampilkan pada laptop melalui jaringan lokal tanpa membutuhkan koneksi cloud.

Operator posko dapat memantau jaringan yang aktif secara real-time, melihat posisi personel di lapangan, mencatat berbagai kejadian, hingga mengirim pesan teks darurat.

Hingga akhir Agustus 2026, tim telah menyelesaikan purwarupa berupa dua unit ResQ-Node dan satu unit Gateway. Seluruh perangkat ditempatkan dalam enclosure protektif yang dilengkapi antena eksternal dan telah melalui tahap verifikasi komunikasi pada tingkat perangkat keras.

Tak berhenti di sana, pengembangan ResQ-Net kini diarahkan pada kemampuan yang lebih kompleks. Tim tengah menyempurnakan integrasi teknologi untuk mendeteksi keberadaan korban secara pasif melalui sinyal nirkabel serta mengembangkan modul kecerdasan buatan (Offline AI) yang dapat bekerja tanpa koneksi internet.

Inovasi tersebut diharapkan mampu memperluas kemampuan tim SAR dalam menghadapi situasi darurat, khususnya di wilayah yang sulit dijangkau jaringan komunikasi konvensional.

Isna berharap ResQ-Net tidak berhenti sebagai purwarupa mahasiswa, tetapi dapat dikembangkan menjadi teknologi yang benar-benar bermanfaat bagi operasi kemanusiaan.

“Harapannya, ResQ-Net dapat menjadi solusi teknologi tepat guna yang nantinya bisa dimanfaatkan Basarnas maupun relawan kebencanaan dalam mendukung proses pencarian dan pertolongan,” ujarnya. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close