SMARTNEWS.ID – Seruit bukan sekadar hidangan khas Lampung. Di balik racikan sambal, ikan, dan lalapan, tersimpan nilai kebersamaan serta identitas budaya yang ingin terus dijaga dan diperkenalkan hingga ke tingkat nasional maupun mancanegara.
Semangat itu disampaikan Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, saat membuka Seruit Battle dalam rangkaian Festival Krakatau XXXV Tahun 2026 di Lapangan Saburai, Jumat, 28 Agustus 2026.
Wulan Mirza mengatakan, pelestarian seruit membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam menjaga kuliner sekaligus warisan budaya Lampung.
“Pelestarian budaya dan pengembangan pariwisata bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kolaborasi, kerja sama dari semua pihak. Kita semua sangat ingin seruit ini dikenal bukan hanya di Lampung saja, tapi di nasional bahkan mancanegara,” ujar Wulan.
Ia menilai Festival Krakatau menjadi panggung strategis untuk mengenalkan kekayaan budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif Lampung. Seruit Battle pun tidak sekadar menjadi perlombaan mengolah makanan, tetapi dikemas sebagai upaya menghidupkan kembali tradisi lokal melalui cara yang lebih kreatif.
“Melalui kegiatan Seruit Battle ini, kita tidak hanya menyelenggarakan perlombaan memasak atau meracik sambal seruit, tetapi kita sedang menghadirkan kembali sebuah tradisi dan budaya Lampung dalam bentuk yang lebih kreatif lagi, lebih menarik, dan relevan dengan perkembangan pariwisata masa kini,” katanya.
Sebanyak 31 tim ambil bagian dalam Seruit Battle. Peserta berasal dari berbagai unsur, mulai dari BUMN, BUMD, swasta hingga organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung.
Masing-masing tim menunjukkan kreativitas dalam menyajikan seruit. Namun, di balik kompetisi tersebut, terselip pesan yang lebih besar, yakni membangun kebersamaan dan memperkuat silaturahmi.
Bagi Wulan, nilai kebersamaan justru menjadi ruh dari tradisi seruit. Proses menyiapkan bahan hingga menyantapnya bersama-sama mencerminkan semangat kekeluargaan masyarakat Lampung.
“Nah hari ini bukan hanya Ibu-ibu dandan, ngulek sambal, menyiapkan ikan, lalapan, dan semuanya, tetapi di sini ajang kita semua silaturahmi. Ajang kita untuk bekerja sama per tim,” ujarnya.
Ia berharap semangat tersebut tidak berhenti setelah perlombaan selesai. Seruit Battle diharapkan berkembang menjadi ruang promosi kuliner Lampung sekaligus menumbuhkan rasa bangga generasi masa kini terhadap budaya daerah.
“Di sini adalah tugas kita sama-sama untuk terus melestarikan adat, budaya, ciri khas, identitas kita sebagai masyarakat Lampung,” kata Wulan.
Menurutnya, seruit memiliki peluang untuk menjadi bagian dari promosi pariwisata Lampung. Karena itu, kreativitas dalam mengemas kuliner tradisional perlu terus dikembangkan tanpa menghilangkan nilai budaya yang melekat di dalamnya.
Wulan juga mengajak seluruh peserta berkompetisi secara sportif. Baginya, predikat juara bukan satu-satunya tujuan dalam kegiatan tersebut.
“Karena pada akhirnya tujuan kita, selain kita mendapatkan predikat juara, juga bagaimana kita dapat bersama-sama mengangkat seruit Lampung menjadi bagian dari kebanggaan dan identitas kita semua,” kata dia. (***)