Pendidikan

SMPN 16 Perkuat Kompetensi Guru Lewat IHT Inklusif dan Digital


SMARTNEWS.ID – Pesatnya perubahan dunia pendidikan, SMPN 16 Bandar Lampung memilih memperkuat kualitas guru sebagai investasi utama dalam mencetak generasi unggul.

Selama dua hari, 17-18 Juli 2026, seluruh guru dan tenaga kependidikan mengikuti In House Training (IHT) yang mengusung penguatan pembelajaran inklusif, transformasi digital, budaya mutu sekolah, hingga integrasi pendidikan lingkungan dalam proses belajar mengajar.

Pelatihan yang berlangsung di SMPN 16 itu menjadi bekal bagi para pendidik untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih adaptif terhadap kebutuhan peserta didik sekaligus menjawab tantangan pendidikan abad ke-21.

Kepala satuan pendidikan setempat, Nuryah Indarwati, mengatakan IHT bukan sekadar agenda rutin peningkatan kompetensi guru, melainkan bagian dari strategi sekolah dalam memastikan setiap peserta didik memperoleh layanan pendidikan terbaik tanpa terkecuali.

“Melalui IHT ini, guru dibekali berbagai kompetensi agar mampu menghadirkan pembelajaran yang inklusif, memanfaatkan teknologi digital secara optimal, menjaga mutu pendidikan, sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada peserta didik,” ujarnya, Sabtu, 18 Juli 2026.

Hari pertama IHT, kata dia, menghadirkan Kepala SMPN 8 Bandar Lampung, Suisnedy, sebagai narasumber yang membahas pendidikan inklusif. Dalam pemaparannya, ia mengajak guru memahami karakteristik peserta didik yang beragam, termasuk siswa berkebutuhan khusus, sehingga strategi pembelajaran dapat disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing anak.

Menurut Nuryah, materi tersebut sangat penting karena sekolah harus mampu menciptakan ruang belajar yang ramah, setara, dan memberi kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk berkembang sesuai potensinya.

“Tujuan utama kami adalah agar guru memahami bagaimana memberikan pembelajaran terbaik kepada siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Pendidikan inklusif bukan hanya menerima mereka di sekolah, tetapi memastikan mereka benar-benar mendapatkan hak belajar yang sama,” katanya.

Memasuki hari kedua, peserta memperoleh materi tentang digitalisasi pembelajaran melalui MLS yang disampaikan guru SMPN 16 Bandar Lampung, Dina. Materi ini menitikberatkan pada pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari inovasi pembelajaran sehingga proses belajar menjadi lebih interaktif, kreatif, dan relevan dengan kehidupan peserta didik yang tumbuh di era digital.

Ia menilai kemampuan guru menguasai teknologi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi.

“Digitalisasi dalam pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini. Guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai media belajar yang menarik sekaligus membimbing siswa agar menggunakan teknologi secara bijak untuk meningkatkan kemampuan akademiknya,” jelasnya.

Penguatan kualitas pendidikan juga diberikan melalui materi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang disampaikan Pengawas Pembina Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bandar Lampung, Didit Aryani. Dalam sesi tersebut, guru diajak memahami pentingnya budaya mutu sebagai landasan meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara berkelanjutan.

Tak hanya itu, komitmen SMPN 16 sebagai sekolah yang mengembangkan program Adiwiyata turut menjadi bagian penting dalam pelatihan. Guru SMPN 16, Indah, menyampaikan materi mengenai pengintegrasian budaya lingkungan ke dalam modul ajar.

Melalui materi tersebut, guru didorong untuk memasukkan nilai-nilai pelestarian lingkungan dalam setiap proses pembelajaran sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan.

“Kami ingin nilai-nilai Adiwiyata tidak berhenti pada kegiatan menjaga kebersihan sekolah, tetapi benar-benar terintegrasi dalam pembelajaran. Dengan demikian, siswa terbiasa memiliki kepedulian terhadap lingkungan di mana pun mereka berada,” ujar Nuryah.

Ia berharap seluruh rangkaian IHT mampu meningkatkan profesionalisme guru sekaligus memperkuat budaya belajar di SMPN 16. Dengan guru yang terus belajar dan berkembang, sekolah optimistis mampu menciptakan pembelajaran yang lebih berkualitas, inklusif, inovatif, serta membentuk karakter peserta didik yang peduli lingkungan dan siap menghadapi tantangan masa depan.

“Kualitas pendidikan selalu berawal dari kualitas gurunya. Karena itu, kami terus berupaya memberikan ruang belajar bagi para guru agar mereka dapat memberikan pelayanan pendidikan terbaik kepada seluruh siswa,” tuturnya. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close