ILUSTRASI
SMARTNEWS.ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) menempati peringkat ketujuh top score Jurnal SINTA di antara Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) se-Indonesia per 3 Januari 2026.
Berdasarkan data Science and Technology Index (SINTA) yang dilansir dari laman resmi https://sinta.kemdiktisaintek.go.id/affiliations?page=1&q=Islam%20negeri pada 3 Januari 2026, UIN Raden Intan Lampung kembali tercatat sebagai salah satu PTKIN dengan produktivitas publikasi ilmiah tertinggi secara nasional.
Dalam pemeringkatan tersebut, UIN Raden Intan Lampung memperoleh SINTA Score 3 Years (tiga tahun terakhir) sebesar 91.496, dengan SINTA Score Overall mencapai 189.839. Capaian ini menempatkan UIN RIL pada posisi ketujuh di bawah enam PTKIN teratas lainnya.
Adapun peringkat keenam ditempati UIN Sunan Ampel Surabaya dengan SINTA Score 3 Years sebesar 94.635, disusul posisi kelima UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan skor 149.549. Posisi keempat diraih UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan skor 229.087, posisi ketiga UIN Sumatera Utara dengan skor 252.924, posisi kedua UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan skor 445.742, dan posisi pertama ditempati UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan SINTA Score 3 Years sebesar 450.114.
Kepala Pusat Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Paten, dan Publikasi Ilmiah (PHPPI) UIN RIL, Antomi Saregar, M.Pd., M.Si., mengatakan capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif sivitas akademika yang terus membangun budaya riset dan publikasi ilmiah secara konsisten.
“Capaian UIN Raden Intan Lampung yang berada pada peringkat tujuh besar PTKIN versi SINTA merupakan buah dari kerja bersama dan komitmen berkelanjutan sivitas akademika dalam penguatan riset dan publikasi ilmiah,” ujarnya.
Ia menambahkan, di tengah persaingan antar-PTKIN yang semakin ketat, terutama dengan kampus-kampus besar yang terus melakukan akselerasi, posisi ini menunjukkan bahwa UIN Raden Intan Lampung mampu menjaga daya saingnya di tingkat nasional.
Antomi juga menegaskan bahwa peringkat SINTA bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu. Oleh karena itu, capaian ini tidak dipandang sebagai tujuan akhir.
“Kami memaknai capaian ini sebagai pengingat untuk terus berbenah dan berinovasi. Fokus ke depan adalah mendorong penguatan ekosistem riset melalui pusat-pusat penelitian, peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi di jurnal nasional dan internasional bereputasi, serta penguatan hilirisasi riset dalam bentuk paten dan kekayaan intelektual,” katanya.
Selain itu, UIN Raden Intan Lampung juga akan terus memperluas kolaborasi riset lintas institusi, baik di tingkat nasional maupun global. Pusat HKI, Paten, dan Publikasi Ilmiah disebut akan tetap berperan aktif sebagai enabler melalui pendampingan penulisan artikel ilmiah, akselerasi paten, penguatan literasi publikasi bereputasi, serta memastikan kebijakan institusional yang mendukung produktivitas dosen dan peneliti.
“Harapannya, UIN Raden Intan Lampung tidak hanya mampu bertahan di jajaran 10 besar PTKIN, tetapi secara bertahap dapat mengejar dan melampaui kampus-kampus yang saat ini berada di atas,” lanjutnya.
Ia menyampaikan optimisme bahwa dengan semangat kolaborasi, integritas akademik, dan kerja berkelanjutan, UIN Raden Intan Lampung akan semakin produktif, kompetitif, serta berkontribusi nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan di tingkat nasional maupun internasional.
Sementara itu, peringkat 10 besar SINTA PTKIN per 3 Januari 2026 ditempati oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sumatera Utara, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Sunan Ampel Surabaya, UIN Raden Intan Lampung, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, UIN Raden Fatah Palembang, dan IAIN Parepare. (***)