Kegiatan yang digelar Kamis, 5 November 2026 di Sesat Raja Dilipa, Gedung Serba Guna (GSG) Negeri Ujung Karang itu dihadiri tokoh adat, kepala tiuh, dan camat dari delapan kecamatan di Kabupaten Lampung Utara.
Sebanyak 49 desa (tiuh) di wilayah Sungkai Bunga Mayang turut ambil bagian. Masing-masing desa mengirimkan dua perwakilan, yakni tokoh adat dan kepala desa. Hadir pula Romli, S.Kom., S.H., M.H, tokoh Buay Perja yang juga menjabat Wakil Bupati Lampung Utara.
Ketua Ikatan Keluarga Pakuon Agung (Ikapa), Syahbudin Hasan, S.H, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, silaturahmi akbar ini memiliki arti strategis dalam menjaga ikatan kekeluargaan sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat adat Sungkai Bunga Mayang.
Syahbudin yang juga Sekretaris Forum Buay Perja Bersatu Marga Sungkai Bunga Mayang mengatakan, kegiatan tersebut merupakan inisiatif pihaknya sebagai upaya mempertemukan para tokoh adat dan pemangku kepentingan dari seluruh wilayah Sungkai Bunga Mayang.
Menurutnya, pertemuan lintas 49 tiuh tersebut tidak sekadar menjadi ajang berkumpul, tetapi juga ruang untuk memperkuat komunikasi, menyatukan pandangan, serta membangun kesepahaman dalam menjaga nilai-nilai adat dan budaya yang diwariskan para leluhur.
“Melalui silaturahmi ini, kita ingin mempererat hubungan kekeluargaan seluruh tokoh Sungkai Bunga Mayang yang tersebar di delapan kecamatan. Ini menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat persatuan, dan menjaga kebersamaan,” ujarnya di Kotabumi, Jumat, 6 November 2026.
Ia berharap, pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi dapat menjadi awal dari komunikasi dan kolaborasi yang berkelanjutan antartokoh adat, kepala tiuh, serta pemerintah kecamatan dan desa.
Terlebih, katanya, keberadaan tokoh adat memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya, melestarikan tradisi, serta menjadi bagian dari upaya menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia juga berharap silaturahmi akbar ini dapat menjadi agenda yang terus dilaksanakan secara berkesinambungan. Dengan demikian, hubungan kekeluargaan antargenerasi tetap terpelihara dan semangat persatuan masyarakat Sungkai Bunga Mayang semakin kuat.
“Harapan kita, kebersamaan ini terus terjaga. Perbedaan wilayah dan kedudukan tidak menjadi sekat, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan dan menjaga kehormatan adat Sungkai Bunga Mayang,” kata dia. (***)