DOK HUMAS UIN RIL
SMARTNEWS.ID – Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama, di Halaman Rektor Gedung Academic & Research Center, Sabtu, 3 Januari 2026.
Peringatan HAB ditandai dengan upacara yang diikuti sivitas akademika UIN RIL, juga dilaksanakan pemberian apresiasi kepada sejumlah mahasiswa berprestasi dan penyerahan Satyalancana Karya Satya.
Sebanyak 40 Aparatur Sipil Negara (ASN) UIN RIL yang telah mengabdi selama 10, 20, hingga 30 tahun, menerima penghargaan yang penyerahan piagamnya dipimpin langsung Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D.
“Penghargaan tersebut merupakan bentuk pengakuan negara atas dedikasi dan loyalitas ASN dalam menjalankan tugas pengabdian,” ujar rektor saat penyerahan penghargaan.
Ia mengatakan, Satyalancana Karya Satya bukan sekadar simbol, tetapi pengakuan atas konsistensi, kedisiplinan, dan pengabdian panjang para ASN dalam melayani institusi, umat, dan negara.
Penghargaan tersebut dapat menjadi motivasi, tidak hanya bagi para penerima, tetapi juga bagi seluruh ASN di lingkungan UIN RIL.
“Mudah-mudahan penghargaan ini menjadi penyemangat untuk terus menjaga integritas, meningkatkan kinerja, dan memperkuat budaya kerja yang profesional dan melayani,” tegas Rektor.
Artificial Intelligence
Dalam kesempatan itu, rektor menyampaikan pesan Menteri Agama kepada ASN untuk dapat menyikapi perubahan yang begitu cepat dan penuh ketidakpastian, terlebih pada perkembangan Artificial Intelligence (AI).
“Di tengah era VUCA yaitu Volatility, Uncertainty, Complexity, and Ambiguity, ASN Kementerian Agama diminta tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki kedaulatan dalam penguasaan dan pemanfaatan AI,” pesan dia.
Pada masa lalu, ulama dan cendekiawan mewarnai dunia melalui literasi dan keilmuan di pusat peradaban seperti Baitul Hikmah. Namun berbeda saat ini, ASN Kementerian Agama harus mampu mewarnai perkembangan AI.
“ASN Kementerian Agama harus menghadirkan konten keagamaan yang otoritatif, valid, moderat, sejuk, dan mencerahkan. Kita harus memastikan algoritma masa depan tidak hampa dari nilai ketuhanan dan kemanusiaan,” ujarnya.
AI harus dikawal agar menjadi alat pemersatu dan penguat kerukunan. “AI jangan menjadi pemicu disinformasi dan perpecahan,” katanya seraya mengajak ASN untuk menyatukan tekad sesuai tema HAB ke-80 “Umat Rukun dan Sinergi.” (**)