DOK
SMARTNEWS.ID – Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran terus dilakukan oleh SMPN 19 Bandar Lampung, salah satunya melalui kegiatan kokurikuler berupa belajar di luar kelas.
Dalam mendukung upaya tersebut, pihak sekolah berencana mengajak para peserta didik melakukan kunjungan edukatif ke Taman Purbakala Pugung Raharjo di Lampung Timur.
Mengunjungi Taman Purbakala yang merupakan situs purbakala itu sebagai bentuk pembelajaran kontekstual berbasis sejarah dan budaya.
Kegiatan kokurikuler dirancang memperkuat materi intrakurikuler. Dengan mengunjungi langsung situs bersejarah, siswa mendapatkan pengalaman belajar lebih nyata dan bermakna.
Taman Purbakala terletak di daerah datar dengan ketinggian sekitar 80 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi tanggul bekas peninggalan pertahanan masa lampau.
Di kawasan itu ditemukan berbagai peninggalan dari zaman megalitik, klasik (Hindu-Buddha), hingga Islam, yang mencerminkan perjalanan panjang peradaban di wilayah Lampung.
Namun sayangnya, rencana itu dibatalkan oleh pihak sekolah karena berbagai pertimbangan. Padahal sebelumnya mayoritas wali murid sangat mendukung kegiatan kokurikuler tersebut.
Dalam rencana tersebut, padahal pihak sekolah juga tidak memaksakan para peserta didik untuk mengikuti. Sebagai gantinya siswa mempelajarinya dari dunia maya.
Kepala SMPN 19 Yulva Roza, M.Pd, mengatakan situs Pugung Raharjo yang ditemukan pada 1957 oleh warga transmigran saat membuka hutan, merupakan warisan budaya.
Bila peserta didik dapat mengunjungi situs sejarah Pugung Raharjo, memberikan pengalaman langsung kepadanya sehingga pembelajaran menjadi lebih hidup dan bermakna.
“Sebenarnya kokurikuler seperti ini penting untuk menumbuhkan minat belajar siswa. Namun dengan terpaksa dibatalkan karena berbagai pertimbangan,” kata dia, Kamis, 16 April 2026.
Menurut dia, pembelajaran di luar kelas seperti mengunjungi situs bersejarah memiliki sejumlah kelebihan dibandingkan pembelajaran yang hanya bersifat teori.
Kelebihannya, sambung dia, peserta didik tidak hanya menerima informasi secara verbal, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dengan mengamati objek yang dipelajari.
“Ini pembelajaran kontekstual membuat materi mudah dipahami, meningkatkan daya ingat, dan mendorong keaktifan siswa dalam pembelajaran,” ujar wanita berdarah minang itu.
Situs yang luas sekitar 25 hektare, memiliki beragam peninggalan seperti punden berundak, batu berlubang, kapak batu, arca Bodhisatwa, prasasti, hingga batu nisan dari masa Islam.
“Temuan-temuan tersebut menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat aktivitas manusia dari berbagai periode sejarah,” kata dia.
Selain sebagai objek wisata, Taman Purbakala Pugung Raharjo juga memiliki makna penting sebagai warisan budaya yang berfungsi sebagai sarana pendidikan.
“Situs ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah, terutama dalam memahami perkembangan masyarakat awal di Sumatera, khususnya di Lampung,” kata dia.
E-Rapor
Sebagai kegiatan kokurikuler, lanjut mantan kepala SMPN 36 Bandar Lampung itu, pembelajaran di luar kelas ini menghasilkan capaian yang dapat diinput dalam E-Rapor.
Adapun hasil yang diperoleh siswa antara lain, mampu mengidentifikasi peninggalan sejarah dari berbagai masa (prasejarah, Hindu-Buddha, dan Islam).
Kemudian, memiliki keterampilan observasi langsung dan pencatatan data di lapangan, serta mampu mengaitkan teori pembelajaran di kelas dengan kondisi nyata.
“Tentunya juga hasil itu dapat menunjukkan sikap apresiatif terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya bangsa, khususnya di Lampung,” kata dia. (***)