Perguruan Tinggi

Kenalkan Model ARICT Bawa Trisnawati Raih Gelar Doktor Unila


SMARTNEWS.ID – Trisnawati resmi meraih gelar doktor pada Program Doktor Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka promosi doktor yang digelar di Aula K FKIP Unila, Rabu, 10 Juni 2026.

Dalam sidang tersebut, Trisnawati mempresentasikan disertasi berjudul “ARICT Learning: Model Pembelajaran Digital Berbasis Integrasi APOS dan Konsep Matematis RME untuk Meningkatkan Computational Thinking Mahasiswa.”

Sidang promosi doktor dibuka oleh Prof. Dr. Eng. Suripto Dwi Yuwono, S.Si., M.T, sebagai perwakilan ketua tim penguji. Tim promotor terdiri dari Prof. Dr. Sugeng Sutiarso, M.Pd, selaku promotor dan Dr. Rangga Firdaus, M.Kom., sebagai ko-promotor.

Turut hadir sebagai penguji Prof. Hasan Hariri, S.Pd., M.B.A., Ph.D, selaku penguji eksternal, Prof. Dr. Bambang Sri Anggoro, M.Pd, sebagai penguji internal, serta Dr. Riswandi, M.Pd., dan Dr. Tina Yunarti, M.Si.

Dalam penelitiannya, Trisnawati mengembangkan model pembelajaran digital ARICT yang mengintegrasikan teori APOS (Action, Process, Object, Schema) dengan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME). Model tersebut dirancang untuk meningkatkan kemampuan Computational Thinking (CT) mahasiswa, terutama dalam memahami mata kuliah matematika yang bersifat abstrak seperti Aljabar Linear.

Penelitian ini berangkat dari tantangan yang masih dihadapi perguruan tinggi dalam membekali mahasiswa dengan keterampilan abad ke-21, termasuk kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, dan literasi digital.

Melalui pemanfaatan platform digital yang didukung Learning Management System (LMS) dan aplikasi GeoGebra, model ARICT mampu membantu mahasiswa memahami konsep-konsep matematika yang kompleks secara lebih sistematis dan aplikatif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut memenuhi kriteria valid, praktis, dan efektif. Penerapannya terbukti mampu meningkatkan seluruh indikator kemampuan berpikir komputasional mahasiswa, mulai dari dekomposisi masalah, pengenalan pola, abstraksi, hingga evaluasi, dengan nilai peningkatan (N-gain) yang berada pada kategori tinggi.

Temuan tersebut dinilai memiliki implikasi penting bagi pengembangan pembelajaran di perguruan tinggi. Model ARICT tidak hanya mendorong penguasaan materi akademik, tetapi juga mengarahkan proses pembelajaran pada penguatan kompetensi utama yang dibutuhkan di era digital.

Selain memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori pembelajaran dan penerapan Computational Thinking, penelitian ini juga diharapkan menjadi dasar pengembangan kurikulum, modul pembelajaran, serta inovasi perkuliahan yang lebih relevan dengan kebutuhan pendidikan masa depan. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close