SMARTNEWS.ID – Mahasiswa Universitas Lampung (Unila) mengembangkan inovasi material berbasis limbah lokal untuk menjawab persoalan pencemaran air akibat limbah cair industri tekstil. Melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Nanosorb.id, mahasiswa Unila mengolah tulang ikan sapu-sapu dan sekam padi menjadi biokomposit hidroksiapatit–silikon dioksida (HAp–SiO₂) yang berpotensi digunakan sebagai adsorben pewarna metilen biru.
Inovasi tersebut dikembangkan sebagai alternatif material untuk menyerap zat pewarna sintetis yang terkandung dalam limbah cair industri tekstil sebelum dibuang ke badan air.
Ketua Tim PKM-RE Nanosorb.id menjelaskan, riset tersebut berangkat dari dua persoalan lingkungan sekaligus, yakni rendahnya pemanfaatan limbah padat dan meningkatnya potensi pencemaran perairan akibat limbah industri tekstil.
“Melalui pemanfaatan limbah tulang ikan sapu-sapu dan sekam padi, kami mengembangkan material biokomposit HAp–SiO₂ yang berfungsi efektif menjerap pewarna metilen biru. Langkah ini tidak hanya memberikan nilai tambah pada limbah lokal yang terbuang, tetapi juga menghadirkan solusi ramah lingkungan untuk pengolahan air tercemar,” jelasnya, Kamis, 10 Juni 2026.
Dalam penelitian tersebut, tulang ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) dimanfaatkan sebagai sumber hidroksiapatit (HAp), sedangkan sekam padi digunakan sebagai sumber silikon dioksida (SiO₂).
Tulang ikan terlebih dahulu melalui tahapan pencucian, pengeringan, penghalusan, pengayakan, hingga proses kalsinasi pada temperatur 950 derajat Celsius untuk memperoleh bahan dasar HAp. Sementara itu, silika diekstraksi dari sekam padi sebelum dipadukan dengan HAp.
Kedua material kemudian disintesis melalui metode presipitasi basah. Tim menggunakan variasi suhu kalsinasi 400, 600, dan 900 derajat Celsius untuk mengetahui karakteristik struktur pori sekaligus menentukan kondisi material dengan performa adsorpsi terbaik.
Diuji dengan Karakterisasi Material
Untuk memastikan karakteristik dan kualitas biokomposit yang dihasilkan, Tim Nanosorb.id melakukan sejumlah pengujian menggunakan instrumen karakterisasi material.
Analisis Scanning Electron Microscopy–Energy Dispersive X-Ray (SEM-EDX) digunakan untuk mengamati morfologi permukaan sekaligus komposisi unsur material. Sementara itu, X-Ray Diffraction (XRD) digunakan untuk menganalisis fase dan kristalinitas material.
Tim juga menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) untuk mengidentifikasi gugus fungsi kimia yang terdapat dalam biokomposit HAp–SiO₂.
Karakteristik luas permukaan dan porositas material dianalisis menggunakan metode Brunauer–Emmett–Teller (BET). Parameter tersebut menjadi salah satu aspek penting dalam mengevaluasi kemampuan material sebagai adsorben.
Kemampuan biokomposit dalam menyerap metilen biru selanjutnya diuji melalui sistem batch. Konsentrasi akhir zat pewarna dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis untuk mengetahui tingkat efektivitas proses adsorpsi.
Tidak berhenti pada tahap karakterisasi dan pengujian laboratorium, riset tersebut juga diarahkan pada pengembangan prototipe filter air fungsional.
Prototipe tersebut menjadi salah satu luaran aplikatif yang diharapkan dapat mengembangkan hasil riset dari skala laboratorium menuju teknologi pengolahan air limbah yang lebih terintegrasi.
Dorong Pemanfaatan Limbah Lokal
Pengembangan biokomposit HAp–SiO₂ menunjukkan upaya mahasiswa Unila dalam mengintegrasikan prinsip ekonomi sirkular dan teknologi hijau melalui pemanfaatan sumber daya lokal.
Tulang ikan yang selama ini berpotensi menjadi limbah padat dan sekam padi yang merupakan residu sektor pertanian tidak hanya dipandang sebagai material buangan, tetapi diolah menjadi bahan bernilai guna untuk mendukung proses remediasi pencemaran air.
Pendekatan tersebut sekaligus memperlihatkan potensi pengembangan material fungsional berbasis biomassa yang lebih berkelanjutan.
Melalui riset Nanosorb.id, Unila mendorong mahasiswa tidak hanya menghasilkan inovasi pada level akademik, tetapi juga mengembangkan solusi yang memiliki relevansi terhadap persoalan lingkungan di masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan pandangan tokoh lingkungan Prof. Emil Salim bahwa manusia perlu menempatkan keberlanjutan ekosistem sebagai bagian penting dalam pembangunan. (***)