SMARTNEWS.ID – Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM) Provinsi Lampung terus mengembangkan layanan kesehatan berbasis teknologi untuk memperkuat diagnosis dan penanganan penyakit pembuluh darah, terutama gangguan pembuluh darah otak dan kasus stroke.
Salah satu teknologi yang kini menjadi bagian dari penguatan layanan tersebut adalah Digital Subtraction Angiography (DSA), teknologi radiologi intervensi yang mampu memberikan gambaran pembuluh darah secara lebih detail dan real-time.
Kepala Humas RSUDAM Provinsi Lampung, Desy Yuanita, S.K.M., M.K.M, mengatakan kehadiran layanan DSA menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam meningkatkan kapasitas pelayanan medis, khususnya bagi pasien dengan gangguan pembuluh darah yang membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam.
Menurut Desy, teknologi tersebut memungkinkan tim medis memperoleh gambaran kondisi pembuluh darah secara lebih jelas sehingga dapat membantu dokter menentukan evaluasi dan penanganan sesuai kondisi pasien.
“DSA menjadi salah satu bagian dari penguatan layanan RSUDAM dalam mendukung pemeriksaan penyakit pembuluh darah. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan indikasi medis dan melalui evaluasi tim dokter,” jelas Desy.
DSA, jelasnya, merupakan prosedur radiologi intervensi yang menggunakan sinar-X dan zat kontras khusus untuk memvisualisasikan pembuluh darah.
Melalui sistem pengolahan gambar secara digital, gambaran struktur pembuluh darah dapat terlihat lebih jelas karena struktur lain, seperti tulang, dapat dikurangi dari citra pemeriksaan.
“Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu dokter mengevaluasi berbagai kelainan pembuluh darah, baik pada otak, jantung maupun pembuluh darah perifer,” ujarnya.
Dalam penanganan kasus neurologis, khususnya stroke dan gangguan pembuluh darah otak, DSA dapat membantu mengevaluasi sejumlah kondisi.
Di antaranya stroke akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah, perdarahan subaraknoid yang berkaitan dengan aneurisma, malformasi pembuluh darah atau arteriovenous malformation (AVM), intracranial stenosis, hingga stroke perdarahan.
“Pemeriksaan dengan teknologi tersebut juga dapat digunakan pada kondisi tertentu, termasuk evaluasi tumor atau kanker serta kasus vertigo dan migrain berulang, sesuai indikasi dan pertimbangan medis,” katanya.
Ia menjelaskan, tidak semua pasien dengan keluhan neurologis otomatis membutuhkan pemeriksaan DSA. Dokter terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dan menentukan apakah prosedur tersebut diperlukan berdasarkan kondisi serta indikasi medis pasien.
Didukung Dokter Spesialis
Pengembangan layanan DSA di RSUDAM, kata dia, juga didukung tenaga medis yang menangani kasus neurologi dan bedah saraf.
Untuk layanan neurologi di Poli Eksekutif, pasien dapat memperoleh pelayanan bersama dr. Alfi Rizky Medikanto, M.Sc., Sp.N., AIFO-K, FINA; dr. Izza Ayudia Hakim, Sp.N., AIFO-K., FISQua., FINA; serta dr. Muhammad Yunus, Sp.BS., FIS., M.Kes.
Jadwal pelayanan dr. Alfi Rizky Medikanto tersedia pada Senin dan Rabu pukul 14.00–16.00 WIB.
Sementara dr. Izza Ayudia Hakim melayani pada Senin dan Selasa pukul 11.00–14.00 WIB. Adapun jadwal pelayanan dr. Muhammad Yunus menyesuaikan.
Kehadiran tim dokter dengan kompetensi terkait, ujarnya, diharapkan dapat memperkuat rangkaian pelayanan pasien, mulai dari pemeriksaan awal, penentuan diagnosis, pemeriksaan penunjang hingga penanganan lebih lanjut sesuai kondisi medis.
Selain memperkuat teknologi dan sumber daya manusia, lanjut dia, RSUDAM juga telah memiliki dasar penetapan tarif sementara untuk tindakan DSA.
Tarif tersebut ditetapkan berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor 400.7.1/13.H/VII.01/IX/2026 tentang Tarif Sementara Tindakan DSA dan MT RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung tertanggal 22 September 2026.
Berdasarkan ketentuan tersebut, tarif sementara layanan DSA mulai dari Rp20.681.000.
Ia mengatakan, angka tersebut merupakan tarif awal dan belum termasuk pemeriksaan penunjang awal maupun biaya kamar rawat inap.
Besaran biaya pelayanan juga dapat berbeda bergantung pada kondisi pasien, jenis tindakan yang diperlukan, pemeriksaan tambahan serta pelayanan medis lainnya.
Karena itu, sebelum menjalani tindakan, pasien akan mendapatkan penjelasan dari tim medis mengenai indikasi pemeriksaan, tahapan prosedur, persiapan yang diperlukan hingga estimasi biaya berdasarkan kondisi masing-masing pasien.
Jangan Tunggu Memburuk
Penguatan layanan DSA, lanjutnya, juga menjadi bagian dari upaya RSUDAM meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan penyakit pembuluh darah, terutama yang berkaitan dengan stroke.
Ia mengimbau masyarakat tidak mengabaikan gejala yang muncul secara tiba-tiba, khususnya gejala yang mengarah pada stroke, dan segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Deteksi serta evaluasi sejak awal diperlukan agar kondisi pasien dapat segera dinilai oleh tenaga medis dan langkah penanganan dapat ditentukan sesuai kebutuhan.
“Yang terpenting, masyarakat tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami keluhan atau perubahan kondisi yang tidak biasa. Pemeriksaan dan tindakan selanjutnya akan ditentukan dokter berdasarkan kondisi masing-masing pasien,” kata Desy.
Dengan hadirnya teknologi DSA, RSUDAM terus memperluas kapasitas pelayanan penyakit pembuluh darah sekaligus memperkuat keterpaduan antara teknologi diagnostik, dokter spesialis dan pelayanan medis.
“Langkah tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan pelayanan yang semakin komprehensif bagi masyarakat Lampung, khususnya pasien yang membutuhkan evaluasi lebih mendalam terhadap kondisi pembuluh darah otak dan kasus neurologis lainnya,” kata dia. (***))