SMARTNEWS.ID – Di tengah kesibukan pelaksanaan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) pada Selasa, 9 Juni 2026, ada satu peserta yang menarik perhatian.
Bukan karena nilai akademiknya sudah diketahui tinggi, bukan pula karena fasilitas khusus yang diterimanya. Melainkan karena semangatnya yang seolah menolak tunduk pada keterbatasan.
Namanya Reni Agustin. Pagi itu, Reni – sapaan akrabnya, itu memasuki ruang ujian dengan langkah tenang. Ia tidak membawa catatan atau buku pelajaran. Matanya tidak menatap layar komputer seperti peserta lainnya. Sebab sejak lama, penglihatannya tidak lagi mampu menangkap cahaya.
Namun, di balik keterbatasan itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat, yakni tekad. Di ruang ujian, Reni duduk didampingi seorang pendamping yang bertugas membacakan setiap soal yang muncul selama tes berlangsung.
Dengan saksama ia mendengarkan satu demi satu pertanyaan yang dibacakan oleh Irawansyah, dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UIN Raden Intan Lampung.
Tidak ada keluhan. Tidak ada kegugupan berlebihan. Yang terlihat justru konsentrasi dan keyakinan.
Bagi sebagian orang, mengikuti ujian masuk perguruan tinggi mungkin merupakan tahapan biasa dalam perjalanan pendidikan. Namun bagi Reni, hari itu adalah salah satu pintu penting menuju masa depan yang selama ini ia impikan.
Di luar ruang ujian, Sundari, ibunda Reni, menunggu dengan penuh harap. Ia sudah terbiasa menemani putrinya dalam berbagai perjalanan hidup yang tidak selalu mudah.
Sebagai penyandang disabilitas tunanetra, Reni tumbuh dengan tantangan yang berbeda dibandingkan kebanyakan anak seusianya. Namun sejak kecil, ia dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi.
“Lanjut kuliah itu keinginan dia sendiri,” ujar Sundari.
Keinginan itu bukan sekadar angan-angan. Selama menempuh pendidikan di SLB A Bina Insani, Reni telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalanginya untuk berprestasi.
Ia dua kali meraih Juara 1 Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat SMPLB dan SMALB dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Peserta Didik Berkebutuhan Khusus tingkat Provinsi Lampung.
Tidak hanya itu, Reni juga merupakan seorang hafidzah dengan hafalan Al-Qur’an mencapai empat juz.
Prestasi-prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kemampuan seseorang tidak selalu dapat diukur dari kondisi fisiknya.
Di tengah berbagai keterbatasan akses yang masih dihadapi penyandang disabilitas dalam dunia pendidikan, Reni justru menunjukkan bahwa kesempatan yang diberikan secara setara dapat melahirkan potensi luar biasa.
Ketika ujian selesai, Reni mengungkapkan alasan sederhana namun sangat kuat mengapa dirinya ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Saya ingin kuliah karena semua memiliki hak yang sama. Kesetaraan,” singkatnya.
Kalimat singkat itu menggambarkan perjuangan panjang yang masih dihadapi banyak penyandang disabilitas di Indonesia.
Bagi sebagian orang, kuliah adalah pilihan. Namun bagi banyak penyandang disabilitas, kesempatan untuk masuk perguruan tinggi sering kali masih menjadi perjuangan yang harus ditembus melalui berbagai hambatan, mulai dari akses fisik, fasilitas belajar, hingga stigma sosial.
Reni memahami hal itu. Karena itu, keputusannya mengikuti UM-PTKIN bukan hanya tentang mengejar gelar akademik, tetapi juga tentang memperjuangkan hak yang seharusnya dimiliki setiap warga negara: hak untuk memperoleh pendidikan.
Dalam ujian tahun ini, ia memilih tiga program studi di UIN Raden Intan Lampung, yakni Ekonomi Syariah, Bimbingan Konseling Islam, dan Sejarah Peradaban Islam.
Pilihan tersebut mencerminkan keinginannya untuk terus berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat melalui ilmu yang dipelajari.
Kehadiran Reni dalam UM-PTKIN tahun ini sekaligus menjadi potret penting tentang bagaimana pendidikan tinggi mulai bergerak menuju sistem yang lebih inklusif.
UIN Raden Intan Lampung menyediakan pendamping khusus bagi peserta difabel selama pelaksanaan ujian. Pada hari sebelumnya, kampus juga memfasilitasi peserta tuna daksa yang mengikuti tes.
Wakil Rektor I UIN Raden Intan Lampung, Prof. Dr. Andi Thahir, mengat seluruhan peserta memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan tanpa diskriminasi.
Komitmen tersebut bukan sekadar soal menyediakan fasilitas ujian, melainkan tentang memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang setara untuk meraih masa depan.
Sebab pendidikan yang inklusif bukan hanya memberi ruang bagi penyandang disabilitas untuk masuk ke dalam sistem, tetapi juga mengakui bahwa mereka memiliki kemampuan, mimpi, dan potensi yang sama untuk berkembang. (***)