SMARTNEWS.ID – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini semakin mudah diakses pelajar. Namun, kemudahan tersebut dinilai harus dibarengi kemampuan berpikir kritis agar AI tidak justru membuat siswa bergantung dan menerima informasi tanpa melakukan pengecekan.
Pesan itu mengemuka dalam pelatihan “Kecerdasan Buatan dan Generative AI: Belajar Menggunakan AI Secara Kritis, Aman dan Bertanggung Jawab” yang digelar dosen Program Studi Sains Data dan Pendidikan Teknologi Informasi (PTI) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya di SMAN 17 Bandar Lampung, Rabu, 26 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kolaborasi lintas program studi IIB Darmajaya untuk memperkenalkan pemanfaatan AI secara tepat sekaligus membangun kesadaran pelajar terhadap risiko teknologi tersebut.
Pelatihan menghadirkan tiga narasumber, yakni Ketua Program Studi Sains Data IIB Darmajaya Egi Safitri, S.Mat., M.Si., serta dosen Program Studi PTI Dr. Yuni Arkhiansyah, S.Kom., M.Kom. dan Meiliza, S.Kom., M.T.I.
Egi Safitri mengingatkan siswa agar tidak menjadikan AI sebagai pengganti kemampuan berpikir. Menurutnya, jawaban yang dihasilkan teknologi kecerdasan buatan tetap perlu diperiksa karena tidak selalu sesuai dengan fakta.
“AI bukan pengganti proses berpikir. Kita harus tetap kritis karena jawaban yang diberikan AI perlu diperiksa kembali dan tidak selalu benar,” ujar Egi.
Sebagai akademisi di bidang Sains Data, Egi juga mengajak siswa memahami bahwa data merupakan bagian penting dalam perkembangan AI. Karena itu, penggunaan teknologi tersebut harus dibarengi kesadaran dalam memperlakukan dan memanfaatkan data secara bijak.
Jangan Asal Masukkan Data Pribadi
Sementara itu, Dr. Yuni Arkhiansyah mengajak pelajar tidak hanya melihat AI dari sisi kecanggihannya.
Menurutnya, ada aspek keamanan dan etika yang harus menjadi perhatian setiap kali teknologi digunakan, termasuk ketika siswa memanfaatkan berbagai layanan AI dalam aktivitas sehari-hari.
“Ketika menggunakan teknologi, kita tidak hanya berbicara tentang kemampuan teknis. Ada tanggung jawab yang harus diperhatikan, termasuk menjaga data pribadi dan menggunakan teknologi secara etis,” kata Yuni.
Ia menilai pemahaman mengenai keamanan data perlu ditanamkan sejak bangku sekolah. Pelajar harus mengetahui bahwa tidak semua informasi pribadi aman untuk dimasukkan ke dalam platform digital berbasis AI.
Kesadaran tersebut diharapkan membentuk kebiasaan digital yang lebih aman sekaligus mencegah pelajar menggunakan teknologi tanpa mempertimbangkan dampaknya.
AI Jadi Teman Belajar, Bukan Jalan Pintas
Berbeda dari kekhawatiran terhadap risiko AI, Meiliza menyoroti sisi positif teknologi tersebut jika digunakan secara tepat.
Menurutnya, Generative AI dapat menjadi pendamping belajar yang membantu siswa mencari ide, memahami materi yang sulit, hingga mengembangkan kreativitas.
“Generative AI bisa menjadi teman belajar yang membantu menemukan ide dan memahami sesuatu dengan lebih mudah. Tetapi, kita tetap harus menjadi pihak yang berpikir, menilai, dan menentukan hasil akhirnya,” ujar Meiliza.
Ia mengingatkan siswa agar tidak menjadikan AI sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Penggunaan AI, kata dia, seharusnya justru mendorong siswa memahami materi, mengembangkan gagasan dan melatih kemampuan memecahkan masalah.
“Melalui pelatihan tersebut, siswa tidak hanya diperkenalkan pada konsep AI dan Generative AI, tetapi juga diajak mengenali batasan, risiko serta konsekuensi penggunaannya,” ujarnya.
Kolaborasi Prodi Sains Data dan PTI IIB Darmajaya, katanya, diharapkan membentuk pelajar yang tidak sekadar mahir menggunakan AI, tetapi juga mampu mempertanyakan informasi, memverifikasi jawaban, menjaga keamanan data dan mempertimbangkan etika. (***)