Pemprov Lampung

Mirza Bidik 10.000 Tenaga Kerja Lampung ke Luar Negeri


SMARTNEWS.ID – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menargetkan pengiriman 10.000 tenaga kerja asal Lampung ke luar negeri pada tahun mendatang. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan keterampilan generasi muda di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan di daerah.

Target tersebut disampaikan Gubernur yang akrab disapa Mirza saat membuka Grand Launching Program Tailor Made Training (TMT) Kementerian Ketenagakerjaan se-Provinsi Lampung di Gedung Rektorat Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Bandar Lampung, Senin, 2 November 2026.

Menurut Mirza, Lampung memiliki potensi besar dari sisi jumlah penduduk usia produktif. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan lapangan pekerjaan dan keterampilan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 71 persen penduduk Lampung berada pada usia angkatan kerja. Setiap tahun, terdapat sekitar 130.000 lulusan SMA dan sederajat. Dari jumlah tersebut, sekitar 100.000 orang tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Kondisi itu, kata Mirza, menuntut adanya terobosan dalam menyiapkan generasi muda agar tidak hanya bergantung pada pekerjaan formal, tetapi juga memiliki kemampuan menciptakan peluang usaha.

“Pemerintah Provinsi Lampung sangat sadar bahwa kunci kemajuan dan kemakmuran Lampung ke depan ada pada anak-anak mudanya. Karena itu, mereka harus memiliki keterampilan, kreativitas, dan inovasi agar setelah lulus tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga mampu membuka lapangan pekerjaan,” ujarnya.

Selain membuka akses kerja ke luar negeri, Pemprov Lampung juga mengarahkan peningkatan kompetensi anak muda pada pengembangan industri pengolahan hasil pertanian dan perkebunan.

Mirza menyoroti besarnya potensi komoditas unggulan Lampung yang selama ini masih banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah. Salah satunya kopi robusta, yang menurutnya menyumbang sekitar 74 persen ekspor kopi robusta Indonesia, tetapi belum optimal diolah menjadi produk siap konsumsi di daerah.

Potensi serupa terdapat pada pisang, jagung, dan singkong. Pemerintah daerah ingin mendorong generasi muda mengambil peran dalam pengembangan industri pengolahan agar nilai ekonomi komoditas tersebut tidak seluruhnya dinikmati melalui perdagangan bahan baku.

Salah satu peluang yang tengah disiapkan ialah pengembangan industri pakan ternak di tingkat desa. Pemanfaatan sekitar 30 persen produksi jagung Lampung untuk industri pakan lokal diperkirakan berpotensi menciptakan sekitar 2.000 lapangan pekerjaan dan 400 hingga 500 unit usaha baru.

Untuk memperkuat peluang tersebut, Pemprov Lampung juga menyiapkan program pembiayaan tanpa bunga bagi anak muda yang ingin mengembangkan usaha. Skema ini diharapkan dapat mempertemukan keterampilan, potensi sumber daya daerah, dan akses permodalan.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Lampung Agus Nompitu melaporkan, hingga peluncuran program TMT telah diterima 268 usulan pelatihan dengan jumlah calon penerima manfaat mencapai 5.788 orang.

Usulan tersebut mencakup 17 bidang kejuruan, mulai dari bisnis dan manajemen, teknologi informasi, perhotelan, pengolahan produk bakery, kewirausahaan, pertanian, perikanan, barista, pemandu wisata, tata busana, pengelasan, kelistrikan hingga bahasa Jepang.

Materi dan pelaksanaan pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan mitra pengguna tenaga kerja, termasuk dunia usaha, industri, perguruan tinggi, serta pemerintah kabupaten dan kota.

Rektor UIN Raden Intan Lampung Prof. Wan Jamaluddin Z, menyampaikan, pelaksanaan TMT di kampus tersebut diikuti 288 mahasiswa dalam 18 kelas. Pelatihan mencakup digital marketing, desain grafis, pengelolaan sampah terpadu, halal chain, audit, komputer, produktivitas, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Adapun Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Serang Kementerian Ketenagakerjaan Adi Nugroho mengatakan, pihaknya menargetkan sekitar 5.000 peserta pelatihan dari Lampung pada 2026. Jumlah itu direncanakan meningkat menjadi 7.000 peserta pada 2027 dengan memperluas jangkauan pelatihan hingga ke desa-desa. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close