SMARTNEWS.ID – Persoalan limbah organik yang selama ini menjadi tantangan di banyak daerah ternyata dapat diubah menjadi peluang ekonomi. Berangkat dari isu tersebut, Tim Pemberdayaan Masyarakat (PM) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Lampung (Unila) menghadirkan inovasi pengelolaan limbah organik berbasis ekonomi sirkular yang mengantarkan mereka masuk 60 besar terbaik dari 263 tim se-Indonesia pada ajang Seminar Berdampak 2026.
Prestasi tersebut membuat tim mahasiswa Unila mendapat kesempatan mempresentasikan gagasannya di hadapan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) dalam forum nasional yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, pada 5–7 Juni 2026.
Program yang diusung tidak sekadar menawarkan solusi pengolahan sampah, tetapi membangun sistem pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan sektor lingkungan, pertanian, perikanan, peternakan hingga penguatan ekonomi desa.
Ketua Tim PM BEM Unila, Muhamad Dzuhri, bersama Dosen Pembina BEM Unila, Yusuf Perdana, S.Pd., M.Pd., memperkenalkan inovasi bertajuk “Transformasi Limbah Organik sebagai Inovasi Hijau untuk Pertanian, Perikanan, Peternakan, dan Ekonomi Desa” yang diterapkan di Desa Pasar Krui, Kabupaten Pesisir Barat.
Sekretaris tim, Tri Rizki Handayani, mengatakan program tersebut berangkat dari tingginya volume limbah organik di desa yang mencapai sekitar dua ton setiap hari dan belum dimanfaatkan secara optimal.
“Alih-alih menjadi sumber pencemaran, limbah organik kami dorong menjadi sumber daya yang mampu menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim mengembangkan teknologi soluble liquid (SL) yang mampu mempercepat proses penguraian limbah organik menjadi bahan yang bermanfaat dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa menimbulkan bau. Teknologi ini kemudian dikembangkan menjadi produk pupuk organik cair Refnila (Rebio Fertilizer Universitas Lampung) dan pakan ternak Rafnila (Rebio Animal Feed Universitas Lampung).
Pendekatan yang dilakukan tidak berhenti pada inovasi teknologi. Tim mahasiswa juga membangun kapasitas masyarakat melalui pelatihan kepada pemuda Karang Taruna dan kelompok nelayan agar mampu mengelola sampah organik serta limbah ikan secara mandiri.
Sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan program, mahasiswa menyerahkan berbagai peralatan produksi, mulai dari mesin pencacah sampah organik, alat press ulir hingga mesin penggiling limbah ikan. Dengan dukungan tersebut, masyarakat ditargetkan mampu mengolah sebagian besar limbah organik pasar dan limbah hasil perikanan menjadi produk bernilai ekonomi.
Pendekatan berbasis ekonomi sirkular itu dinilai mampu menciptakan manfaat ganda. Selain mengurangi pencemaran lingkungan akibat penumpukan sampah organik, program ini membuka peluang usaha baru, meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan perikanan, sekaligus memperkuat kelembagaan masyarakat melalui Bank Sampah dan Usaha Usaha Bersama (UUB).
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi mahasiswa tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata di masyarakat. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan warga desa, pengelolaan limbah kini berkembang menjadi model pembangunan berkelanjutan yang mendukung pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi lokal. (***)