Humaniora

Dosen Fisika Itera Teliti Panas Bumi Unik di Pulau Bangka

Sejumlah dosen Fisika Itera, saat meneliti panas bumi unik di Pulau Bangka. ISTIMEWA

SMARTNEWS.ID — Adanya sumber panas bumi umumnya identik dengan keberadaan gunung api dan tingkat seismisitas di suatu daerah. Di Indonesia, sumber panas bumi banyak tersebar di sepanjang Pulau Sumatera, Jawa dan pulau-pulau lain yang banyak dijumpai gunung api.

Namun, terdapat suatu fenomena yang cukup langka dan unik yaitu tersebarnya panas bumi di Pulau Bangka, Kepulauan Bangka Belitung yang tidak memiliki gunung api dan tingkat seismisitas rendah. Di pulau ini, cukup banyak sumber panas bumi, seperti di daerah Terak, Nyelanding, Dendang, Pemali, Permis dan Keretak.

Fenomena unik tersebut menarik minat salah satu dosen Institut Teknologi Sumatera (Itera) dari Program Studi Fisika, Rahmat Nawi Siregar, M.Sc, melakukan penelitian di salah satu sumber panas bumi di Pulau Bangka. Nawi, melakukan penelitian di sumber panas bumi di desa Keretak dan desa Terak.

Menurut Nawi, panas bumi di Pulau Bangka berbeda dengan panas bumi di Indonesia pada umumnya. Panas bumi di Pulau Bangka termasuk ke dalam kelompok panas bumi radiogenik yang diakibatkan adanya peluruhan unsur radioaktif seperti uranium, thorium dan potassium yang dikandung oleh batuan di sekitar panas bumi. Unsur-unsur ini umum ditemukan pada batu granit yang sangat melimpah di Pulau Bangka.

Melalui dana hibah penelitian Itera Smart Mandiri tahun 2019, Nawi menyebutkan bahwa batu granit di daerah Nyelanding, Terak dan Keretak mengandung unsur radioaktif yang sangat tinggi.

“Kandungan unsur radioaktif di daerah Terak dan Keretak mencapai puluhan hingga ratusan ppm (part per million, red) yang mempunyai kontribusi untuk terciptanya panas bumi,” ujar Nawi, Selasa (26/1/2021).

Nawi menyebut, kondisi bawah permukaan panas bumi Terak dan Keretak didominasi oleh keberadaan batu granit hingga kedalaman lebih dari 200 meter.

Hal ini diperkuat dengan dilakukannya penelitian oleh dua mahasiswa Fisika Itera, yaitu Indra Fauzi dan Miftahul Rohim menggunakan metode geomagnet. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa bahwa volume batu granit yang sangat besar berada di bawah permukaan hingga orde jutaan meter kubik.

“Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan adanya penelitian komprehensif untuk menyelediki potensi panas bumi. Namun diprediksi bahwa potensi panas bumi radiogenik tidak sebesar potensi panas bumi vulkanik. Sehingga potensi panas bumi di daerah Terak dan Keretak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat di sekitar sebagai pembangkit listrik tenaga panas bumi,” ujar Nawi.

Nawi berharap, penelitiannya tersebut dapat menjawab pertanyaan mengapa cukup banyak dijumpai sumber panas bumi di Pulau Bangka. Selain itu, penelitian tersebut juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi panas bumi di Pulau Bangka, dan di daerah lain di Indonesia. (RUD)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close