Forum CSR Lampung

PT SMA dan Forum CSR Tanam 8.000 Mangrove, Perkuat Benteng Pesisir Ketapang


SMARTNEWS.ID – Upaya melindungi kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan dampak perubahan iklim terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Forum Corporate Social Responsibility (CSR) Lampung bersama sejumlah perusahaan swasta, BUMN, BUMD, komunitas, dan masyarakat menanam 8.000 bibit mangrove di Desa Sumber Nadi, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan.

Gerakan penghijauan pesisir yang digelar pada 31 Oktober 2026 ini merupakan kelanjutan dari penanaman 4.000 bibit mangrove di kawasan Merak Belantung, Kalianda, yang sebelumnya melibatkan anggota Forum CSR Lampung, antara lain PT Nestle Indonesia Pabrik Panjang, PT Keong Nusantara Abadi, dan Tunas Dwipa Matra (TDM).

Pada kegiatan di Desa Sumber Nadi, PT SMA menjadi motor utama dengan menggandeng PT Konverta Mitra Abadi dan Optima Nusa 7. Masyarakat serta pemerintah desa juga dilibatkan secara langsung, tidak hanya dalam proses penanaman, tetapi juga dalam pemeliharaan bibit agar dapat tumbuh dan memberikan manfaat ekologis dalam jangka panjang.

Prosesi penyerahan bibit mangrove dihadiri perwakilan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, yakni Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (Ekobang) Dr. Tri Umaryani, S.P., M.Si., yang mewakili Bupati Lampung Selatan. Hadir pula perwakilan Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, camat, serta kepala desa setempat.

Direktur PT SMA Tatang Rohadi, S.T., M.Si., mengatakan penanaman mangrove merupakan bagian dari tanggung jawab ekologis perusahaan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. Menurutnya, keberlanjutan usaha harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Dari total 8.000 bibit yang disiapkan, sebanyak 5.000 batang ditanam pada lahan seluas dua hektare. Sementara 3.000 bibit lainnya dialokasikan untuk penyulaman atau mengganti tanaman di area yang mengalami kerusakan. Pemantauan akan dilakukan secara intensif bersama masyarakat untuk memastikan bibit dapat tumbuh dengan baik.

“Keberlanjutan bisnis tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan. Pesisir Ketapang dan Lampung Selatan memiliki garis pantai yang panjang, tetapi juga rentan terhadap dampak perubahan iklim. Karena itu, kita perlu melakukan mitigasi bencana berbasis ekosistem dengan membentengi wilayah dari ancaman abrasi, banjir rob, dan krisis iklim,” ujar Tatang.

Ia menilai mangrove merupakan investasi lingkungan untuk masa depan. Selain berfungsi sebagai pelindung alami kawasan pesisir, keberadaan mangrove juga berperan dalam menyerap karbon dan menjaga keanekaragaman hayati.

Tatang juga mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjawab persoalan lingkungan.

Apresiasi terhadap gerakan tersebut juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan melalui sambutan tertulis Bupati yang dibacakan Tri Umaryani. Pemerintah daerah memandang perlindungan kawasan pesisir sebagai kebutuhan penting, mengingat wilayah Lampung Selatan berhadapan langsung dengan Selat Sunda.

Penguatan vegetasi mangrove dinilai dapat membantu mencegah degradasi lahan yang berpotensi mengancam infrastruktur, sektor pariwisata, serta mata pencaharian nelayan. Ekosistem mangrove juga menjadi benteng alami bagi keanekaragaman hayati sekaligus penyerap karbon biru atau blue carbon.

Sementara itu, Ketua Forum CSR Lampung Dr. Veronika Saptarini, S.H., M.M., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa potensi tanggung jawab sosial perusahaan dapat dihimpun menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat langsung bagi kepentingan publik.

Menurut perempuan yang akrab disapa Rini itu, kolaborasi dari kegiatan di Merak Belantung hingga Desa Sumber Nadi melibatkan berbagai perusahaan, BUMN, BUMD, dan komunitas. Dukungan diberikan dalam bentuk bibit, akomodasi, konsumsi, peralatan kerja, hingga tenaga lapangan.

Sejumlah pihak yang berkontribusi antara lain Bank Lampung, PT Keong Nusantara Abadi (Wong Coco), Pertamina Geothermal Energy (PGE), Roti Jordan, PT Nestle Indonesia, Great Giant Food (GGF), PT Lambang Jaya, komunitas Adyatama, dan Yayasan Langit Sapta.

“Ini betul-betul gotong royong murni. Tidak ada cerita besar dan kecil, tidak ada transaksi uang tunai yang berputar dalam kegiatan ini. Semua bentuk kontribusi sangat berarti,” ujar Rini.

Ketua Pusat Studi CSR Universitas Bandar Lampung (UBL) itu menjelaskan, pengelolaan CSR perlu mengedepankan akuntabilitas dan kejelasan program. Menurutnya, kontribusi perusahaan dalam bentuk kegiatan fisik dan program terukur dapat menjadi salah satu model pelaksanaan CSR yang lebih transparan serta memberikan dampak langsung kepada masyarakat.

Rini juga mendorong agar potensi CSR perusahaan tidak berhenti pada kegiatan penanaman mangrove. Jika dikelola secara terpadu, kolaborasi tersebut dapat dikembangkan untuk mendukung edukasi lingkungan, kesehatan, pemenuhan nutrisi, peningkatan keterampilan, hingga pengembangan ekonomi masyarakat.

“Bayangkan jika seluruh potensi swasta, BUMN, BUMD, dan komunitas berhimpun menyatukan fokus CSR-nya. Kita tidak hanya bisa menanam mangrove, tetapi juga membangun kawasan eduwisata atau desa produktif yang mandiri secara ekonomi di Lampung, seperti yang dicanangkan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sinergi melalui Forum CSR Lampung juga membuka peluang bagi perusahaan yang memiliki keterbatasan ekonomi, tetapi tetap ingin berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan. Perusahaan dapat menyelaraskan sebagian program CSR yang dimiliki dengan prioritas pembangunan daerah.

Semakin banyak perusahaan dan komunitas yang terlibat, semakin besar pula peluang berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan lingkungan dapat ditangani secara bersama-sama.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan program penanaman mangrove tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga, merawat, dan memastikan keberlangsungan tanaman menjadi faktor penting agar gerakan penghijauan tersebut benar-benar tumbuh menjadi sabuk hijau pelindung pesisir bagi generasi mendatang. (***)

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close