SMARTNEWS.ID – Di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh media sosial, SMP Negeri 1 Bandar Lampung memperkuat edukasi kepada peserta didik agar mampu menyikapi berbagai dinamika sosial secara bijak.
Upaya tersebut dilakukan melalui Layanan Informasi Pencegahan yang digelar di lapangan sekolah, Kamis, 27 Agustus 2026, dengan menghadirkan Dosen Program Studi Hukum Bisnis Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, Dr. H. Suratno, S.Pd.I., M.H, sebagai pembicara.
Mengangkat tema “Memahami Dinamika Sosial dan Kesehatan Mental Remaja terkait Isu LGBT”, kegiatan tersebut diarahkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai tantangan yang dapat muncul dari lingkungan pergaulan maupun paparan konten di media sosial.
Suratno mengatakan, masa remaja merupakan periode penting dalam pembentukan karakter dan pola pikir. Karena itu, siswa perlu memiliki tempat untuk bertanya dan menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Ia meminta siswa tidak memendam masalah seorang diri, terutama ketika menghadapi persoalan yang berkaitan dengan pergaulan, tekanan sosial, maupun kondisi psikologis.
“Jangan memendam persoalan seorang diri. Kalau ada masalah, ceritakan kepada orang tua, guru BK, atau orang yang dipercaya,” kata Suratno.
Ia juga mengingatkan siswa agar lebih selektif dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah menerima setiap informasi yang beredar begitu saja.
Menurutnya, edukasi terhadap remaja harus dilakukan dengan pendekatan yang santun, terbuka, dan tidak menghakimi. Setiap individu tetap harus diperlakukan dengan hormat, sementara siswa perlu mendapatkan pemahaman mengenai nilai, tanggung jawab, serta konsekuensi dari setiap pilihan dan perilaku.
“Kita tidak membenci orangnya, tetapi mengingatkan perilakunya. Setiap orang tetap harus dihormati dan diperlakukan dengan baik,” ujarnya.
Ia menilai kegiatan edukasi semacam ini perlu dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya di satu sekolah. Menurut dia, upaya pencegahan akan lebih efektif jika sekolah, orang tua, pemerintah, tokoh agama, dan masyarakat bergerak bersama.
Pentingnya sosialisasi, kata dia, apabila pemerintah daerah nantinya menetapkan regulasi terkait isu tersebut. Masyarakat, termasuk kalangan pelajar, perlu memperoleh penjelasan yang proporsional mengenai tujuan, ruang lingkup, serta ketentuan yang berlaku.
“Sekolah perlu menjadi ruang edukasi dan pencegahan. Anak-anak harus mendapatkan pemahaman yang tepat, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan maupun konten media sosial,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Bandar Lampung, Yulia Budiarti, S.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari upaya sekolah memberikan pendampingan kepada siswa dalam menghadapi perkembangan lingkungan sosial.
Menurut Yulia, sekolah tidak hanya berperan dalam memberikan pembelajaran akademik, tetapi juga memiliki tanggung jawab membentuk karakter dan membekali siswa agar mampu mengambil keputusan secara bijak.
“Kegiatan ini sangat penting bagi anak-anak kami. Mereka perlu mendapatkan informasi yang benar dan ruang untuk berdiskusi, sehingga ketika menghadapi persoalan tidak mencari jawaban dari sumber yang belum tentu tepat,” ujar Yulia.
Ia mengatakan pihak sekolah juga terus mendorong siswa untuk aktif dalam kegiatan positif sebagai salah satu cara membangun karakter dan mengembangkan potensi diri.
Yulia berharap edukasi tersebut dapat membuat siswa semakin terbuka untuk berkomunikasi dengan guru maupun orang tua ketika menghadapi persoalan.
“Terpenting adalah anak merasa didampingi. Kami ingin mereka tahu bahwa ketika menghadapi masalah, ada guru dan orang tua yang siap mendengarkan dan membantu,” katanya. (***)