SMARTNEWS.ID – Pagi itu, Mal Kartini (Moka) Bandar Lampung tidak hanya dipenuhi pengunjung. Di salah satu sudutnya, puluhan anak duduk berhadapan dengan lembar gambar, menggenggam pensil warna dengan tangan-tangan kecil mereka.
Ada yang langsung memilih warna. Ada yang tampak berpikir cukup lama. Ada pula yang sesekali menoleh kepada orang tua atau gurunya sebelum kembali menundukkan kepala dan melanjutkan gambar.
Sebanyak 35 peserta didik PAUD SKB Kota Bandar Lampung berada di sana untuk mengikuti lomba mewarnai yang digelar melalui kolaborasi Moka yang dikelola PT Anugerah Moka Mandiri (AMM) dan SKB, Minggu, 23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian memeriahkan HUT ke-81 Republik Indonesia. Namun, jika dilihat lebih dekat, yang berlangsung di sana bukan hanya sebuah perlombaan.
Ada anak-anak yang sedang belajar percaya diri. Ada yang sedang belajar berani memilih. Ada pula yang sedang belajar bahwa hasil karya seseorang tidak harus sama dengan karya orang lain.
Di atas kertas, warna-warna mulai bertemu. Merah dengan biru. Hijau dengan kuning. Ada kombinasi yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang dewasa.Tetapi itulah dunia anak-anak. Dunia yang seharusnya memiliki ruang untuk mencoba, berimajinasi, bahkan melakukan kesalahan.
Koordinator PAUD SKB Bandar Lampung, Intan Chandra Dewi, S.Pd, mengatakan kegiatan mewarnai memiliki nilai pembelajaran yang penting bagi anak usia dini.
“Terpenting lagi, hari ini anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar, bermain, bersosialisasi, dan menunjukkan bahwa setiap anak memiliki keunikan serta kreativitas masing-masing,” ujar Intan dalam sambutannya.
Menurutnya yang kesempatan itu mewakili Plt Kepala SKB, Ibramsyah, S.I.P itu, anak tidak seharusnya datang ke sebuah perlombaan dengan ketakutan bahwa gambarnya akan salah atau warnanya tidak sesuai.
“Tidak ada gambar yang paling bagus dan tidak ada warna yang paling benar. Yang terpenting adalah berani mencoba, berani berkreasi, dan menikmati prosesnya,” katanya.
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Namun bagi anak-anak, pesan tersebut bisa menjadi sesuatu yang penting. Sebab keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk besar.
Kadang keberanian hanya berupa tangan kecil yang berani mengambil pensil warna dan mulai menggoreskan warna di atas kertas.
Di sekitar arena perlombaan, orang tua menjadi bagian penting dari suasana. Mereka mendampingi, memberi semangat, dan menyaksikan bagaimana anak-anak menyelesaikan karya masing-masing.
Intan mengingatkan bahwa dukungan orang tua sebaiknya tidak berhenti pada pertanyaan tentang siapa yang menjadi juara. Anak perlu mendapatkan apresiasi karena telah berani mencoba dan menyelesaikan proses.
“Berikan kesempatan kepada anak untuk berkembang sesuai dengan potensi dan tahap perkembangannya. Karena dari sebuah gambar sederhana hari ini, bisa tumbuh rasa percaya diri,” ujar Intan yang didampingi tenaga pengajar PAUD Anggraini, S.Pd dan Machjurisia Arini, S.E, itu.

Pesan itu menjadi semakin relevan ketika perlombaan akhirnya memasuki tahap penilaian. Dari sekian banyak peserta, panitia memilih enam pemenang, yaitu Juara 1, 2, 3, Harapan 1, 2, dan 3, serta favorit 1, 2, 3, dan 4.
Bagi enam anak yang terpilih, tentu ada kebahagiaan tersendiri. Namun bagi peserta lainnya, pengalaman hari itu tetap memiliki nilai. Mereka telah berani mengikuti perlombaan. Mereka telah berani menunjukkan karya.
Dan mereka telah belajar menerima bahwa dalam sebuah kompetisi, tidak semua orang dapat berada di urutan yang sama.
Di tempat yang sama, Tim Marketing Mall Kartini, Zhazha Rafles Aphino, mengatakan lomba mewarnai tersebut terbuka untuk umum.
Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya dimaksudkan untuk menghadirkan kompetisi, tetapi juga memberikan ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi, mengembangkan kemampuan, dan merasakan pengalaman mengikuti kegiatan di lingkungan yang lebih luas.
Kolaborasi Moka dan SKB pun menghadirkan bentuk pembelajaran yang berbeda. Mal yang biasanya identik dengan aktivitas perdagangan pada hari itu menjadi ruang kreativitas anak-anak.
“Guru hadir, orang tua hadir, masyarakat hadir. Dan anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar di tengah lingkungan yang berbeda dari keseharian mereka,” ujar dia.
Ketika perlombaan berakhir, kata dia, gambar-gambar dikumpulkan untuk dinilai. Beberapa anak mungkin pulang dengan membawa hadiah. Sebagian lainnya membawa sertifikat dan pengalaman.
Namun ada sesuatu yang lebih penting yang mungkin tidak terlihat dalam daftar pemenang. Rasa percaya diri, keberanian, kegembiraan, dan pengalaman bahwa karya mereka layak untuk dihargai.
“Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar dengan cara yang menyenangkan,” katanya. (***)