Perguruan Tinggi

Unila Ubah Limbah Baglog Jadi Pakan Maggot, Budidaya Jamur Kini Dikendalikan IoT


SMARTNEWS.ID – Limbah baglog jamur yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan dimanfaatkan menjadi sumber produksi maggot Black Soldier Fly (BSF) oleh tim dosen dan mahasiswa Universitas Lampung (Unila).

Inovasi tersebut diterapkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Kelompok Wanita Tani (KWT) Pangan Lestari, Desa Adiluwih, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Rabu, 26 Agustus 2026.

Program tersebut menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mengendalikan kondisi kumbung jamur tiram dengan pemanfaatan limbah baglog melalui biokonversi maggot BSF.

Kegiatan merupakan bagian dari hibah nasional Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Ditjen Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026.

Program dirancang untuk meningkatkan efisiensi produksi jamur sekaligus menerapkan konsep circular economy melalui pemanfaatan kembali limbah organik.

Ketua Tim PkM, Nadia Maharani, S.Pt., M.Si. dari Program Studi Peternakan Unila, mengatakan KWT Pangan Lestari memiliki 21 anggota perempuan produktif dan telah mengelola sekitar 1.000 baglog jamur sejak 2019.

Sebelum pendampingan, pengendalian suhu kumbung masih dilakukan secara manual. Sementara itu, limbah baglog setelah panen belum dimanfaatkan secara optimal.

“Permasalahan utama mitra adalah pengendalian iklim mikro kumbung yang belum presisi. Melalui sistem monitoring suhu dan kelembapan berbasis IoT yang terhubung dengan alat penyiraman otomatis, kondisi lingkungan tumbuh kini dapat dipantau secara terukur dan real-time,” jelas Nadia.

Dosen Teknik Informatika Unila, Rizkima Akbar Setiawan, S.T., M.T., mengatakan perangkat IoT dirancang sederhana agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh anggota kelompok tani.

Penerapan teknologi tersebut memangkas waktu monitoring kumbung dari sebelumnya sekitar 120 menit per hari menjadi 15 menit per hari. Efisiensi waktu yang dicapai mencapai 87,5 persen.

Tidak berhenti pada digitalisasi budidaya, tim Unila juga mengolah limbah baglog menjadi media biokonversi maggot BSF.

Dari inovasi tersebut, produksi maggot meningkat dari 2 kilogram menjadi 8 kilogram per siklus. Maggot kemudian dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pakan ternak.

Pengolahan limbah tersebut juga meningkatkan produksi pupuk organik kasgot atau bekas maggot dari 5 kilogram menjadi 20 kilogram per siklus.

Dosen Agribisnis Unila, Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si., mengatakan pendekatan circular economy memungkinkan limbah sisa produksi tidak sekadar dibuang, tetapi diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Ketua KWT Pangan Lestari, Usriyati, mengapresiasi pendampingan teknologi yang dilakukan Unila. Menurutnya, otomatisasi budidaya dan pengolahan limbah baglog membuka peluang bagi kelompok untuk mengembangkan diversifikasi usaha.

Program PkM tersebut melibatkan tim lintas disiplin yang terdiri atas Nadia Maharani, Rizkima Akbar Setiawan, dan Rabiatul Adawiyah, serta mahasiswa Bagas Pangestu, Elthon Jhon Kevin, Angga Saputra, Daffa Fauzan Kamilo, Muhammad Nur Irwansyah, dan Aviv Malkianov Limbong. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close