SMARTNEWS.ID – Pemerintah Provinsi Lampung mendorong olahraga, khususnya badminton, tidak sekadar menjadi ajang mengejar prestasi, tetapi berkembang sebagai budaya di kalangan generasi muda.
Dorongan itu disampaikan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal saat membuka Gubernur Lampung Badminton Open 2026 di Ryuga Badminton Hall, Lampung Selatan, Minggu, 27 september 2026.
Menurut Mirza – sapaannya itu, olahraga memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang sehat, disiplin, sportif, sekaligus memiliki mental kompetitif.
“Generasi harus sehat, harus punya budaya olahraga, harus cinta dengan olahraga, harus punya disiplin seperti disiplin dalam berolahraga, dan harus punya sifat fair atau sportivitas seperti dalam olahraga,” kata Mirza.
Gubernur Lampung Badminton Open 2026 berlangsung pada 27 September hingga 4 Oktober 2026. Turnamen tersebut diikuti 665 peserta dari seluruh kabupaten/kota se-Lampung dengan mempertandingkan 15 kategori.
Ia menilai lahirnya atlet berprestasi tidak dapat dilepaskan dari proses pembinaan dan pengaderan yang dilakukan secara konsisten.
Karena itu, olahraga menurutnya perlu ditempatkan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia, bukan hanya sebagai kegiatan kompetitif.
“Atlet badminton nasional, atlet olahraga nasional, merupakan perwujudan dari sebuah sistem, sebuah program, dan sebuah gerakan. Salah satu gerakan itu adalah bagaimana membentuk generasi sumber daya manusia yang baik untuk menuju Indonesia Emas,” ujarnya.
Kompetisi Diperbanyak
Mirza juga mengingatkan pentingnya memperbanyak kompetisi sebagai bagian dari peningkatan kualitas atlet.
Menurutnya, atlet membutuhkan ruang pertandingan yang berkelanjutan untuk mengukur kemampuan sekaligus meningkatkan pengalaman bertanding.
“Saya percaya tidak akan ada peningkatan kualitas tanpa ada kompetisi. Semakin banyak kompetisi, akan semakin semangat orang untuk meningkatkan kualitas,” katanya.
Atas dasar itu, ia mendorong kompetisi badminton tidak berhenti pada tingkat provinsi. Ajang serupa diharapkan berkembang hingga kabupaten, kecamatan, bahkan desa.
Ia mengusulkan adanya kompetisi berjenjang seperti Bupati Cup, Camat Cup hingga Kades Cup.
Dengan pola tersebut, pembinaan atlet dapat dimulai dari lingkungan paling bawah dan memberikan ruang lebih luas bagi munculnya bibit-bibit baru.
“Maka saya harapkan dorongan dari Pak Asri selaku ketua penyelenggara untuk membuat Gubernur Cup ini juga menjadi inspirasi. Di sini banyak klub-klub badminton, banyak PBSI di setiap kabupaten/kota. Dibuatlah Badminton Open, Bupati Cup, Camat Cup, Kades Cup. Jadi ada kompetisi mulai dari bawah,” ujarnya. (***)