SMARTNEWS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mulai menggeser orientasi kerja dari sekadar memproduksi statistik menuju pemanfaatan data untuk mendukung kebijakan dan pembangunan yang lebih tepat sasaran.
Kepala BPS Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution menegaskan, data yang benar dan berkualitas saja tidak lagi cukup. Data harus bisa dipahami, dipercaya, mudah diakses dan digunakan untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Hal itu disampaikan Ahmadriswan dalam Leaders Talk: BPS di Mata Publik yang digelar di Springhill Grand Ballroom Hotel Golden Tulip Bandar Lampung, Sabtu, 3 Oktober 2026.
“BPS mempunyai tugas menghasilkan statistik. Namun, tantangan kita hari ini tidak berhenti pada bagaimana menghasilkan angka yang benar. Angka yang benar, statistik yang berkualitas itu sudah selesai. Sekarang kita ingin naik kelas,” kata Ahmadriswan.
Ia mengatakan, ukuran keberhasilan BPS tidak semata-mata terletak pada banyaknya statistik yang diterbitkan. Lebih dari itu, data harus mampu memberikan manfaat dan digunakan oleh berbagai pihak.
“Pada akhirnya keberhasilan BPS bukan hanya diukur dari berapa banyak statistik yang kami hasilkan, tetapi juga dari seberapa besar statistik dipercaya, digunakan, dan memberikan manfaat pada masyarakat,” ujarnya.
Ahmadriswan mencontohkan pelaksanaan Sensus Ekonomi yang telah selesai secara jadwal, tetapi masih menemukan pelaku usaha dan keluarga yang belum terdata.
Temuan tersebut membuat BPS melakukan re-visit selama 15 hari. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak ada data yang tertinggal dan hasil pendataan benar-benar valid.
“Sehingga tidak ada data yang terlewat, sehingga ini bukan data yang ujug-ujug, benar-benar data yang valid,” katanya.
Menurut Ahmadriswan, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa proses menghasilkan statistik membutuhkan evaluasi berkelanjutan, termasuk terhadap metodologi dan teknologi yang digunakan.
Di sisi lain, BPS Lampung juga menyiapkan Siger Lampung, platform digital yang memungkinkan masyarakat dan pemangku kepentingan mengakses informasi kondisi masyarakat hingga level keluarga.
“Kita sudah membuat, melahirkan sebuah platform digital namanya Siger Lampung. Jadi, Siger Lampung ini memudahkan semua pihak untuk mengakses, untuk memahami kondisi sampai level keluarga,” jelasnya.
Ahmadriswan menyebut perubahan tersebut membutuhkan keterlibatan banyak pihak. BPS menghasilkan data, sementara media, akademisi dan pihak terkait dapat mengolahnya menjadi informasi yang lebih mudah dipahami.
Selanjutnya, pemerintah menggunakan informasi tersebut sebagai bahan dalam pelaksanaan pembangunan.
“Kalau kami singkat dengan tiga kata, kegiatan hari ini adalah Data, Cerita, dan Dampak,” ujarnya.
Melalui forum tersebut, BPS membuka ruang bagi pemerintah, akademisi, media, pelaku UMKM, lembaga keuangan dan pemangku kepentingan lainnya untuk menyampaikan perspektif, masukan hingga kritik terhadap kerja lembaga statistik.
Kegiatan dalam rangkaian Hari Statistik Nasional itu mengusung tema “Dari Perspektif Publik Menuju Transformasi Pelayanan BPS”. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal hadir sebagai keynote speaker, sementara sesi Leaders Talk menghadirkan Prof Nairobi, Dahlan Dahi dan Mahpudi. (***)