Opini

Sumpah Pemuda 2026, Mu’min Ajak Generasi Muda Jadikan Laut sebagai Masa Depan Bangsa


SMARTNEWS.ID – Semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti sebagai kenangan atas perjuangan sejarah. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, ikrar persatuan yang lahir pada 28 Oktober 1928 harus menjelma menjadi kekuatan nyata untuk membangun bangsa, memperkuat karakter generasi muda, dan menjaga masa depan Indonesia sebagai negara kepulauan yang besar.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi momentum penting untuk merefleksikan kembali arti patriotisme, perjuangan, dan pengabdian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi Indonesia, yang wilayahnya terbentang dari ribuan pulau dan dipersatukan oleh lautan, semangat tersebut memiliki makna strategis dalam membangun sektor maritim yang kuat, aman, modern, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat.

Laut bukan sekadar kekayaan alam yang diwariskan kepada bangsa Indonesia. Laut merupakan jalur kehidupan yang menghubungkan masyarakat, menggerakkan perdagangan, mendukung distribusi kebutuhan pokok, serta membuka peluang ekonomi bagi jutaan orang. Namun, besarnya potensi itu juga menghadirkan tantangan yang menuntut keseriusan, mulai dari keselamatan pelayaran, peningkatan kualitas pelayanan pelabuhan, perlindungan lingkungan laut, hingga kesiapan sumber daya manusia menghadapi transformasi digital.

Di tengah tantangan tersebut, generasi muda memiliki posisi penting. Mereka bukan hanya penerus estafet kepemimpinan, melainkan juga calon penggerak perubahan yang menentukan bagaimana potensi maritim Indonesia dikelola pada masa mendatang.

Semangat pemuda yang dahulu menjadi kekuatan untuk melawan penjajahan kini harus diwujudkan melalui penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, integritas, kedisiplinan, dan keberanian menyelesaikan persoalan bangsa. Perjuangan masa kini membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki cita-cita besar, tetapi juga bersedia bekerja keras dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pandangan tersebut menjadi relevan dalam konteks pengabdian aparatur negara di sektor transportasi laut. Sebab, membangun Indonesia sebagai negara maritim bukan hanya tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh unsur, termasuk petugas pelabuhan, pelaut, pelaku usaha, masyarakat pesisir, dan generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap masa depan laut Nusantara.

Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Kota Agung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung, Mu’min, S.E., M.M., M.Mar, memandang peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat bahwa semangat kebangsaan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata di setiap bidang pengabdian.

Sebagai bagian dari keluarga besar Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, ia berada dalam lingkungan kerja yang memiliki peran strategis dalam mendukung keselamatan pelayaran, kelancaran transportasi laut, serta konektivitas antarpulau.

Dalam momentum Sumpah Pemuda 2026 yang mengusung tema “Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia”, kata dia, nilai-nilai tersebut dapat menjadi landasan bagi aparatur perhubungan laut untuk memperkuat profesionalisme sekaligus mendorong generasi muda agar tidak berpaling dari potensi besar maritim Indonesia.

Semangat Pengabdian

Mu’min mengatakan, semangat Sumpah Pemuda perlu diterjemahkan dalam cara setiap orang menjalankan tanggung jawabnya. Perjuangan tidak lagi semata-mata dilakukan melalui perlawanan fisik sebagaimana pada mcasa penjajahan, tetapi juga melalui pekerjaan yang jujur, pelayanan yang berkualitas, kepatuhan terhadap aturan, serta kesediaan mendahulukan kepentingan masyarakat.

Dalam sektor perhubungan laut, ujar dia yang mulai menjabat sebagai kepala UPP Kelas III Kota Agung sejak akhir Agustus 2024 lalu, pengabdian itu memiliki konsekuensi besar karena berkaitan langsung dengan keselamatan manusia dan keberlangsungan kegiatan ekonomi.

Keselamatan pelayaran, misalnya, tidak boleh dipandang sebagai rutinitas administratif. Pemeriksaan kelaiklautan kapal, kepatuhan terhadap kapasitas penumpang, perhatian terhadap kondisi cuaca, dan kesiapan menghadapi keadaan darurat merupakan bagian penting dari tanggung jawab negara dalam melindungi masyarakat.

Karena itu, kata Mu’min, semangat patriotisme harus tercermin dalam keberanian menegakkan aturan dan menjalankan tugas secara profesional. Setiap keputusan yang berkaitan dengan keselamatan harus berlandaskan ketentuan dan kepentingan publik, bukan tekanan atau kepentingan sesaat.

“Semangat yang sama juga diperlukan dalam meningkatkan kualitas pelayanan pelabuhan. Aparatur dituntut terus belajar, beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan memberikan pelayanan yang transparan serta dapat dipertanggungjawabkan,” ujar dia, Rabu, 28 Oktober 2026.

Dalam konteks tersebut, lanjut dia, nilai patriotik bukan hanya tentang kecintaan terhadap tanah air, melainkan juga kesediaan menjaga kepercayaan masyarakat melalui pekerjaan yang benar.

Sementara itu, kegigihan dibutuhkan untuk menghadapi berbagai keterbatasan dan tantangan dalam pembangunan sektor maritim. Adapun empati menjadi pengingat bahwa setiap kebijakan dan pelayanan harus memperhatikan kebutuhan masyarakat, termasuk nelayan, penumpang, pelaku usaha, dan warga yang menggantungkan kehidupannya pada aktivitas laut.

Ketiga nilai itu harus menjadi karakter yang hidup dalam keseharian, bukan sekadar tema yang dibacakan dalam peringatan tahunan.

Transformasi Maritim

Ia mengatakan, perkembangan teknologi telah mengubah cara sektor transportasi dan kepelabuhanan bekerja. Digitalisasi pelayanan, integrasi data, dan penggunaan sistem informasi membuka peluang untuk menghadirkan proses yang lebih efisien, transparan, dan mudah diakses.

Keberadaan sistem digital menuntut kesiapan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi. Generasi muda dengan kemampuan teknologi dan kreativitasnya memiliki peluang untuk mengambil peran dalam memperbaiki proses kerja, mengembangkan inovasi, serta membantu masyarakat memahami layanan digital.

“Namun, kemajuan teknologi harus diimbangi dengan integritas, ketelitian, dan tanggung jawab. Digitalisasi tidak cukup hanya mengubah dokumen fisik menjadi dokumen elektronik. Perubahan itu harus memberikan hasil yang nyata, seperti kemudahan pelayanan, kepastian prosedur, peningkatan akuntabilitas, dan pengelolaan informasi yang lebih baik,” jelasnya.

Karena itu, kata dia, pemuda yang bekerja di sektor maritim perlu terus meningkatkan kompetensi dan tidak berhenti pada kemampuan teknis yang dimiliki saat ini.

“Mereka juga perlu memiliki keberanian menyampaikan gagasan, membangun kolaborasi lintas bidang, serta mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat,” katanya.

Melalui semangat Sumpah Pemuda, ujarnya, mengajarkan bahwa perubahan besar tidak lahir dari sikap pasif. Perubahan membutuhkan keberanian untuk mengambil tanggung jawab dan kesediaan bekerja bersama demi tujuan yang lebih besar.

Tanggung Jawab Bersama

Selain transformasi digital, lanjut Mu’min, tantangan mendasar sektor maritim Indonesia adalah memastikan kegiatan pelayaran berlangsung aman dan pembangunan laut tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.

Keselamatan pelayaran harus menjadi prioritas karena setiap perjalanan membawa kepentingan dan harapan manusia. Kelalaian dalam memenuhi persyaratan keselamatan dapat menimbulkan risiko yang tidak hanya berdampak pada penumpang dan awak kapal, tetapi juga pada keluarga serta masyarakat yang bergantung pada kelancaran transportasi laut.

Di sisi lain, terangnya, pencemaran laut, sampah plastik, dan kerusakan ekosistem pesisir dapat mengancam sumber penghidupan masyarakat serta keberlanjutan ekonomi maritim.
Persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan generasi muda melalui edukasi, inovasi, kegiatan pelestarian lingkungan, dan pengembangan usaha yang bertanggung jawab.

Pemuda di wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Tanggamus, memiliki peluang untuk menjadi bagian dari solusi dengan mengembangkan keterampilan, memperkuat kepedulian terhadap lingkungan, dan memanfaatkan potensi bahari secara bijaksana.

Laut, jelasnya, harus menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakat, bukan ruang yang dieksploitasi tanpa mempertimbangkan masa depan.

Dalam semangat Sumpah Pemuda, menjaga laut merupakan bagian dari menjaga Indonesia. Kekayaan maritim yang dimiliki saat ini harus diwariskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang tetap produktif dan lestari.

Pesan Bagi Generasi Muda

Peringatan Sumpah Pemuda, katanya, juga menjadi momentum bagi seluruh pegawai di lingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut khususnya di lingkungan kantor UPP Kelas III Kota Agung untuk memperkuat komitmen pengabdian.

Profesionalisme, kedisiplinan, integritas, dan kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting dalam membangun pelayanan publik yang semakin baik. Setiap pegawai memiliki peran sesuai tugas dan kewenangannya, sehingga kualitas pelayanan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kesungguhan orang-orang yang menjalankannya.

“Pegawai muda, harus berani membawa gagasan baru, menguasai teknologi, dan meningkatkan kompetensi. Sementara itu, pegawai yang lebih berpengalaman memiliki peran penting dalam membimbing generasi penerus agar tetap menjunjung etika, memahami tanggung jawab, dan menghormati pengalaman,” kata dia.

Menurutnya, kolaborasi antargenerasi menjadi kekuatan untuk membangun organisasi yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan.

Kesempatan itu, ia juga berpesana kepada pemuda dan pemudi Indonesia, semangat Sumpah Pemuda hendaknya menjadi dorongan untuk terus belajar, bekerja keras, menjaga persatuan, serta berani mengambil peran dalam pembangunan.

“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk terpecah. Jangan pula membiarkan potensi besar Indonesia hanya menjadi kebanggaan dalam ucapan tanpa diikuti kerja nyata,” ujarnya.

Generasi muda, katanya, harus mampu meneladani para pendahulu yang berani menyatukan tekad ketika bangsa menghadapi penjajahan. Kini, perjuangan itu dilanjutkan melalui pendidikan, penguasaan teknologi, kewirausahaan, kepedulian sosial, dan pengabdian sesuai bidang masing-masing.

“Indonesia membutuhkan pemuda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas, bukan hanya kompetitif, tetapi juga peduli, bukan hanya berani bermimpi, tetapi juga gigih mewujudkannya,” jelas dia.

Dari Pelabuhan untuk Indonesia

Pada akhirnya, kata Mu’min, makna Sumpah Pemuda harus terlihat dari kontribusi nyata setiap warga negara. Di sektor maritim, kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui keselamatan pelayaran, pelayanan pelabuhan yang berkualitas, penguatan konektivitas, pemanfaatan teknologi, dan perlindungan lingkungan laut.

Dari pelabuhan, kapal, dan kawasan pesisir, semangat kebangsaan harus terus dirawat agar laut benar-benar menjadi penghubung persatuan sekaligus penggerak kesejahteraan masyarakat.

“Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026 menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun Indonesia belum selesai. Tantangan zaman memang berubah, tetapi kebutuhan akan persatuan, integritas, kerja keras, dan kepedulian tetap menjadi fondasi kemajuan bangsa,” urainya.

Semangat patriotik, lanjut dia, harus menjaga kecintaan kepada Indonesia. Kegigihan harus menguatkan langkah menghadapi tantangan. Empati harus memastikan bahwa kemajuan yang dibangun memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

“Dengan semangat tersebut, generasi muda diharapkan mampu melanjutkan cita-cita para pendahulu dan mengambil peran lebih besar dalam membangun Indonesia sebagai negara maritim yang kuat, berdaulat, dan berdaya saing,” tuturnya. (TIM)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close
Close