Pemprov LampungPerguruan Tinggi

Dies Natalis ke-61, Mirza Dorong Unila Jadi Motor Hilirisasi Ekonomi Lampung


SMARTNEWS.ID – Universitas Lampung (Unila) didorong mengambil peran lebih besar dalam mengubah kekuatan komoditas daerah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat.

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal meminta Unila tidak berhenti sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi tampil sebagai motor transformasi ekonomi Lampung melalui inovasi, teknologi dan hilirisasi komoditas unggulan daerah.

Hal itu disampaikan Mirza saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat Unila dalam rangka Dies Natalis ke-61 di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu, 23 September 2026.

“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” ujar Mirza.

Menurutnya, Lampung memiliki modal ekonomi yang kuat dari sektor pangan dan pertanian. Sejumlah komoditas seperti padi, jagung, singkong, nanas, pisang, lada, tebu, kopi, kelapa, kakao hingga kelapa sawit menjadi kekuatan ekonomi daerah.

Namun, potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan nilai tambah karena sebagian besar komoditas masih dipasarkan sebagai bahan mentah.

Mirza mengatakan sekitar 70 persen penduduk Lampung menggantungkan pekerjaan pada sektor pertanian, perkebunan dan peternakan. Kondisi itu membuat perubahan harga komoditas berpengaruh langsung terhadap daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini berada di kisaran 5,5 persen, sementara pemerintah menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi untuk mendukung pencapaian Indonesia Emas.

Karena itu, hilirisasi menjadi salah satu agenda penting yang harus diperkuat melalui keterlibatan perguruan tinggi.

Mirza menilai Unila memiliki sumber daya manusia, pengetahuan dan kapasitas riset yang dapat diarahkan untuk menjawab persoalan nyata di daerah.

“Enggak banyak anak Unila yang terlibat hilirisasi tebu menjadi gula. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi jagung jadi pakan. Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” katanya.

Ia mencontohkan komoditas singkong yang memiliki posisi strategis bagi Lampung. Sekitar 70 persen produksi tapioka nasional berasal dari Lampung, namun produktivitas singkong daerah tersebut masih dinilai memiliki ruang besar untuk ditingkatkan.

Pemprov Lampung bersama Unila pun mendorong pengembangan National Cassava Center sebagai bagian dari upaya memperkuat riset, bibit unggul, produktivitas hingga pengembangan produk turunan singkong.

Gubernur menargetkan pengembangan bibit unggul singkong mulai dilakukan tahun depan. Peningkatan produktivitas diharapkan dapat memperkuat produksi tapioka sekaligus membuka pengembangan produk turunan seperti glukosa dan maltosa.

Langkah tersebut dinilai penting karena hampir 500 ribu penduduk Lampung memiliki aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan komoditas singkong.

“Jadi bukan hanya menjual singkong, bukan hanya menjual tapioka, tetapi bagaimana kemudian nilai tambahnya ada di Lampung,” ujar Mirza.

Selain singkong, pemerintah juga mendorong peningkatan produktivitas berbagai komoditas lainnya. Padi, misalnya, disebut saat ini menghasilkan sekitar 6 ton per hektare dari potensi 10 ton. Sementara jagung sekitar 5 ton dari potensi 10 ton dan singkong sekitar 25 ton dari potensi 40 hingga 60 ton.

Menurut Mirza, peningkatan produktivitas harus berjalan beriringan dengan pengembangan industri pengolahan. Dengan demikian, pertumbuhan sektor pertanian tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan nilai ekonomi baru.

Transformasi tersebut, lanjutnya, membutuhkan keterlibatan sumber daya manusia lokal. Karena itu, Unila diharapkan menjadi penghubung antara pemerintah, dunia usaha, masyarakat dan dunia pendidikan.

Peran generasi muda juga menjadi perhatian. Mirza menyebut kelompok Gen Z dan post-Gen Z mencapai 42,77 persen atau hampir lima juta penduduk Lampung. Potensi tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam membangun ekonomi daerah berbasis pengetahuan dan inovasi.

Sementara itu, Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriyani, DEA., IPM., ASEAN., Eng, menyampaikan bahwa Dies Natalis ke-61 mengusung semangat “Be Strong”, dari kampus yang kuat menuju kampus yang memberikan dampak.

Ukuran keberhasilan perguruan tinggi, menurutnya, tidak hanya dilihat dari capaian kelembagaan, tetapi juga dari sejauh mana riset, inovasi, kebijakan dan pengabdian mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ia berharap, kolaborasi Pemprov Lampung dan Unila mampu melahirkan inovasi yang sesuai dengan karakter daerah. Katanya, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan industri berbasis komoditas lokal, penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Dengan demikian, kekayaan Lampung tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah dan menjadi penggerak ekonomi masyarakat secara berkelanjutan,” kata dia. (***)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close