SMARTNEWS.ID – Universitas Lampung (Unila) memperkuat jejaring akademik internasional melalui The 6th International Indonesia Conference on Interdisciplinary Studies (IICIS) 2026, Summer School 2026, dan Rapat Kerja Nasional Development Studies Association (DSA) Indonesia.
Rangkaian kegiatan yang mengusung tema “Advancing Blue-Green Development: Interdisciplinary Responses to Global Challenges” tersebut diikuti lebih dari 160 peserta dari 11 negara.
Pembukaan kegiatan berlangsung di Gedung A Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unila, Rabu, 23 September 2026, dan diikuti pula secara daring melalui Zoom.
Kegiatan tersebut dihadiri Rektor Unila Prof. Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng., Duta Besar Kroasia untuk Indonesia Nebojša Koharović, para pembicara utama dari berbagai negara, Dekan FISIP Unila Prof. Dr. Anna Gustina Z., S.Sos., M.Si., jajaran pimpinan FISIP Unila, peserta IICIS 2026, Summer School 2026, serta peserta Rapat Kerja Nasional DSA Indonesia.
Tema blue-green development menjadi sorotan utama dalam forum tersebut karena berbagai persoalan pembangunan saat ini semakin kompleks dan saling berkaitan.
Mulai dari perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi hingga transformasi digital dinilai membutuhkan perspektif yang lebih luas dan tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu bidang ilmu.
Rektor Unila Prof. Lusmeilia Afriani mengatakan, pendekatan interdisipliner menjadi kebutuhan penting dalam merespons tantangan global yang semakin kompleks.
“Tema ini bukan sekadar pilihan intelektual, melainkan respons terhadap kenyataan bahwa tantangan global, perubahan iklim, ketahanan pangan, degradasi ekosistem pesisir, ketimpangan ekonomi, hingga transformasi digital tidak dapat dijawab oleh satu disiplin ilmu saja,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai disiplin ilmu perlu dihubungkan agar mampu menghasilkan pemikiran dan solusi yang lebih komprehensif.
“Kita membutuhkan pendekatan interdisipliner yang menghubungkan ilmu sosial, politik, ekonomi, hukum, komunikasi, lingkungan, dan teknologi,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, konsep blue-green development pada dasarnya menempatkan pembangunan berkelanjutan sebagai bagian penting dari proses pembangunan, dengan memperhatikan keterkaitan antara sumber daya laut dan pesisir dengan prinsip-prinsip pembangunan hijau.
Paradigma tersebut, kata dia, mencakup perlindungan ekosistem, efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular hingga aspek keadilan sosial.
“Blue-green development mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh memisahkan daratan dan lautan, pertumbuhan dan keberlanjutan, inovasi dan keadilan sosial,” katanya.
Karena itu, pembangunan perlu diarahkan agar tidak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu menjaga ekosistem dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Dia menuntut kita merancang kebijakan, praktik bisnis, tata kelola, dan perilaku kolektif yang mampu menjaga ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama komunitas pesisir dan kelompok rentan,” tambahnya.
Sementara itu, Duta Besar Kroasia untuk Indonesia Nebojša Koharović turut memberikan sambutan dalam pembukaan kegiatan.
Ia mengenang perjalanan kerja sama antara Kroasia dan Unila yang telah dirintis sejak tujuh tahun lalu.
Menurut Koharović, ketika dirinya pertama kali berkunjung ke Lampung, kerja sama tersebut masih berada pada tahap awal dan belum diketahui akan berkembang sejauh apa.
“Tujuh tahun lalu kami berada di ruangan yang berbeda, di gedung dan fakultas yang lain, dengan sekitar sepuluh orang dari Kroasia serta beberapa orang dari Universitas Lampung dan universitas lain di Indonesia. Saat itu kami memulai sesuatu yang tidak ada seorang pun tahu ke mana arahnya,” ujarnya.
Ia mengatakan, perkembangan kerja sama hingga melahirkan kegiatan seperti summer school dan konferensi internasional menjadi perkembangan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Koharović juga menyampaikan apresiasi terhadap pihak-pihak yang terus menjaga keberlanjutan kerja sama tersebut melalui visi dan dedikasi yang dilakukan secara konsisten.
Menurutnya, penguatan kerja sama akademik juga memiliki arti penting di tengah dinamika hubungan internasional yang semakin kompleks.
Ia menilai forum seperti konferensi internasional dan summer school dapat menjadi ruang pertemuan berbagai perspektif sekaligus memperkuat hubungan antarmanusia dan antarnegara.
“Hubungan internasional saat ini sedang bergerak ke arah yang bahkan kita sendiri tidak tahu lagi bagaimana cara memperbaikinya. Karena itu, pertemuan semacam ini, baik disebut konferensi maupun summer school merupakan langkah yang tepat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kegiatan semacam ini tidak hanya memberikan manfaat bagi kalangan akademisi, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan generasi muda.
Menurutnya, interaksi antara akademisi, mahasiswa, dan peserta dari berbagai negara dapat menjadi bagian dari fondasi hubungan antarnegara yang lebih kuat.
Di akhir sambutannya, Koharović menyampaikan salam dan harapan baik atas nama rombongan 15 profesor asal Kroasia yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh staf, mahasiswa, dan Universitas Lampung atas upaya yang telah dilakukan dalam menjaga dan mengembangkan kerja sama akademik antara Kroasia dan Indonesia. (***)