Nasional & Internasional
Catatan Guru Lampung Ikuti Pelatihan di Tiongkok (3)
Maya Trisia Wardani, S.Si., M.M - Guru IPA SMPN 33 Bandar Lampung
Kegiatan kali ini, kami mengunjungi Ziwei Shuyuan Academy of Classical Learning, yaitu sebuah akademi yang mempelajari etika dalam kebudayaan China khususnya dinasti Han. Sebelum memulai pembelajaran, kami disuguhi teh, minuman khas China, dengan cangkir khususnya.
Tata cara meminum teh, memerlukan etika tersendiri di china. Setelah meminum sajian the, kami mempelajari cara membuat hand craft dari dough berwarna – warni, membuat panda, sebagai salah satu hewan ciri khas China.
Setelah itu kami dibimbing kembali oleh Mrs. Yue Xiang Zhu, untuk membuat paper cut. Paper cut berarti kerajinan dari keterampilan tangan. Hiasan dari kertas yang telah selesai dibuat, akan ditempel di pintu atau jendela.
Pemandangan di Ziwei Academy tersebut sangat indah. Setiap ruangan dibuat masih berdasarkan budaya China. Banyak terdapat bunga-bunga. Salah satunya adalah Lagerstroemia, jenis tanaman perdu yang memiliki bunga berwarna merah.
Musim semi baru akan memulai masanya, tetapi tanaman ini termasuk yang telah lebih dulu mekar bunganya. Menurut petunjuk perjalanan kami, daerah sekitar Ziwei Academy merupakan daerah yang mahal harga tanah dan bangunannya.
Areal tersebut dinamakan Ziwei Gongguan (Residence of a Rich or Important Person). Harga satu rumah disitu berkisar lebih dari 5 miliar yuan. Yang termahal adalah sekitar 20 miliar yuan.
Di academi yang berbudaya lokal tersebut, disediakan pakaian daerah china untuk pria dan wanita. Kami berkesempatan untuk menggunakannya. Senang rasanya hati ini, dapat mempelajari budaya China yang memiliki ketinggian budaya dan budi pekerti.
Cultural Investigation
Kegiatan hari ini kami melakukan investigasi budaya yang diberi judul Explore the Confucian Culture in Qufu: The Temple of Confucius and The Cemetary of Confuncius and The Kong Family Mansion (Eksplorasi Budaya Confucian di Qufu : Kuil Confucius dan Pemakaman Confiucius beserta Mansion Keluarga Kong).
Di sini kami diperkenalkan tentang pengaruh aliran confusiasme di China, khususnya daerah Qufu, Provinsi Shandong. Kami berangkat menggunakan bus pada pukul 07.00 pagi.
Padal kegiatan kali ini kami berkesempatan untuk mengeksplorasi budaya Confucian di Kota Qufu, Provinsi Shandong. Perjalanan dari hotel kami yang terletak di kampus C.U.M.T. kota Xuzhou, provinsi Jiangsu, memakan waktu sekitar 2,5 jam untuk sampai ke Kota Qufu.
Setiba di Qufu, kegiatan pertama kami adalah mengunjungi Kuil Confucius yang dibimbing oleh seorang pemandu bernama Mrs. Susi. Di awal perkenalan beliau mengutip kalimat yang pernah diucapkan Confucius: “Tidakkah menyenangkan memiliki teman-teman yang datang dari jauh?”. Untuk mengungkapkan betapa bangga dan bahagianya dia dapat membimbing kami dalam perjalanan kali ini.
Selepas perkenalan, kami diberikan tiket masuk untuk setiap orang anggota grup. Harga tiket untuk dapat mengeksplorasi beberapa tempat bersejarah ini cukup terjangkau yaitu seharga ¥140 per tiket yang berlaku selama 7 hari dari awal pembelian.
Kuil Confucius di Kota Qufu ini merupakan kuil Confucius yang terbesar dan paling terkenal di daerah Asia Timur. Sejak tahun 1994, Kuil Confucius ini telah menjadi bagian dari Tempat Bersejarah Dunia UNESCO. Tempat Bersejarah Dunia lainnya adalah Mansion Keluarga Kong dan Pemakaman Confucius yang letaknya berdekatan dengan Kuil Confucius.
Setelah memasuki entrance gate kami disambut oleh sebuah gerbang besar yang bernama Lingxing Gate yang namanya berasal dari salah satu gugus bintang bernama Beruang Besar.
Nama gerbang ini menurut Mrs. Susi berarti “Confucius seorang filsuf besar yang bijak” selain itu gerbang ini memiliki arti “Confucius adalah bintang dari surga”. Gerbang ini terbuat dari pohon-pohon Pinus yang disusun tanpa satupun paku. Warna gerbang ini didominasi oleh warna kuning, merah, dan hijau tua.
Gerbang berikutnya bernama Gerbang Shengshi, Gerbang Hongdao, dan Gerbang Dazhong. Pintu masuk dari kesemua gerbang ini memiliki pembatas yang agak tinggi sekitar 25 cm yang menurut penuturan Mrs. Susi ditujukan agar mereka yang memasuki daerah ini menunduk ketika melewati pembatas untuk menunjukkan rasa hormat kepada Confucius.
Beliau mengatakan bahwa “Confucius pernah berpesan kepada para muridnya, seekor Angsa yang berjalan melompat tidak busa berjalan elok seperti seekor kucing”.
Sebelum memasuki gerbang Hongdao (yang berarti mengembangkan filsafat) terdapat 3 jembatan yang di bawahnya mengalir air seperti selokan yang agak lebar.
Di antara ke-3 jembatan tersebut, jembatan yang tengah memiliki ukuran yang paling lebar karena pada awalnya jembatan tersebut hanya busa dilewati oleh para Kaisar atau Confucius itu sendiri. Sebelum melewati jembatan ini, Mrs. Susi mengatakan “Confucius pernah berpesan kepada para muridnya bahwa orang yang bijak maka ia mencintai air, sedangkan orang yang baik maka ia mencintai gunung. Confucius sendiri menyukai keduanya.”
Setelah melewati gerbang-gerbang tersebut, kami tiba di halaman yang terdapat banyak pahatan batu berbentuk seperti tablet dan binatang menyerupai kura-kura yang biasa disebut Thriteen Stele Pavilions.
Tablet-tablet tersebut berisi pesan dari Confucius dan gelar-gelar bangsawan yang diberikan oleh para Kaisar kepada Confucius. Selain tablet, terdapat pahatan batu menyerupai kura-kura yang bernama “Son of Dragon” atau “anak naga” yang anatomi tubuhnya berkepala naga, berbadan kura-kura, bercakar elang, dan berekor ular.
Terdapat 8 pahatan dari era Dinasti Qing/Cing (sekitar abad ke-16 hingga ke-17 masehi), 4 pahatan dari era Dinasti Jin (sekitar abad ke-12 hingga ke-13 masehi), dan 1 pahatan dari Dinasti Yuan. Mrs. Susi mengatakan bahwa beberapa pahatan tersebut dikirim dari Beijing melalui kapal menuju suatu kota dekat Qufu dan kemudian dikirim ke Qufu pada musim dingin melalui jalan yang dilapisi es menggunakan tenaga 800 ekor kuda dan beberapa ratus prajurit.
Seusai penjelasan tersebut kami melanjutkan perjalanan ke Perpustakaan Confucius yang biasa disebut sebagai Star of Literature Pavillion yang di dalamnya berisikan lukisan-lukisan yang menjelaskan riwayat hidup Confucius, beberapa penjual buku-buku seputar Confucius dan ajarannya serta beberapa jenis souvenirs.
Di sini terdapat beberapa kursi panjang dan kami diperintahkan oleh Mrs. Susi untuk duduk di kursi tersebut untuk memperhatikan penjelasan beliau mengenai kisah hidup Confucius.
Menurut penjelasan Mrs. Susi, Confucius adalah seorang filsuf yang lahir pada tanggal 28 Februari tahun 551 S.M. di daerah sekitar kota Qufu (dahulu kala bernama Zou). Ayahnya bernama Shuliang He dan ibunya bernama Yan Zhengzai.
Ketika menikah, ayahnya berusia hampir 70 tahun tetapi ibunya masih berusia 17 tahun. Ketika lahir, Confucius memiliki fisik yang sangat jelek dengan mata besar, gigi atas lebih maju, dan kedua telinga yang besar.
Ayahnya meninggal ketika Confucius berusia 3 tahun dan kemudian dibesarkan oleh ibunya di dalam kemiskinan. Ibunya kemudian meninggal ketika umurnya hampir 40 tahun. Pada umur 19 tahun, Confucius menikah dengan Qiguan dan setahun kemudian mereka memiliki anak laki-laki yang diberi nama Kong Li.
Setelahnya diyakini bahwa mereka memiliki 2 orang anak perempuan yang salah satu diantaranya meninggal ketika masih kecil.
Dalam ajarannya kepada anak, cucu, serta para muridnya, Confucius mengutamakan 6 hal yang harus dikuasai yaitu (1) akhlak yang baik; (2) musik; (3) memanah; (4) berkuda; (5) matematika; dan (6) puisi.
Menurut Confucius, seseorang harus belajar puisi agar dapat mengeksplorasi serta memahami dirinya sendiri. Confucius meninggal pada umur 73 tahun yang diyakini oleh para pengikutnya jika seseorang mencapai umur 73 tahun maka orang tersebut memasuki “umur sial” dan tidak boleh merayakan hari ulang tahunnya.
Jika kemudian mencapai umur 74 tahun, orang tersebut harus merayakan hari ulang tahunnya sebanyak 2 kali.
Setelah penjelasan singkat tersebut kami kembali memutar Perpustakaan Confucius melewati Gerbang Dacheng (yang berarti Gerbang Kesempurnaan Besar) dan menuju halaman Kuiwen yang dilanjutkan dengan menuju Paviliun Xing Tan yang biasa disebut Apricot Platform.
Di depan Paviliun Xing Tan, Mrs. Susi menjelaskan bahwa di sinilah tempat Confucius mengajarkan murid-muridnya, yaitu di bawah pohon Aprikot. Kemudian kami meneruskan perjalanan menuju Dacheng Dian (yang berarti Aula Kesempurnaan Besar).
Terdapat 10 buah tiang penyangga aula yang bermotif Naga. Aula ini berfungsi untuk mempersembahkan pengorbanan dalam rangka memperingati sang guru besar Confucius. Di halaman aula ini kami akhiri kegiatan pertama dengan foto bersama dan makan siang di kantin muslim.
Kemudian kami beranjak menuju ke destinasi berikutnya yaitu Mansion Keluarga Kong, yang letakknya masih di sekitar kuil Confucius. Setibanya di tujuan, Mrs. Susi menjelaskan bahwa tempat ini awalnya merupakan tempat peninggalan dari keturunan-keturunan Confucius.
Struktur bangunan ini dibangun pada era Dinasti Ming dan Dinasti Qing. Keluarga Kong bertanggung jawab atas pelaksanaan aktivitas-aktivitas religius pada saat musim bercocok tanam, musim panen, memperingati mereka yang telah meninggal, hingga perayaan ulang tahun anggota keluarga.
Setelah selesai menelusuri Mansion Keluarga Kong, kami bergegas menuju bus untuk diantarkan ke destinasi berikutnya yaitu Pemakaman Confucius dan anggota-anggota keluarganya.
Setiba di area Pemakaman Confucius, kami menelusurinya menggunakan shuttle car dan masih dipandu oleh Mrs. Susi. Area pemakaman ini memiliki keliling sekitar 10 km dan luas sekitar 200 hektar.
Saat di makam Confucius, tepat di depannya, Mrs. Susi menjelaskan bahwa area pemakaman ini hanya boleh diisi oleh jenazah para lelaki atau istri dari Confucius atau para istri dari keturunan-keturunannya.
Makam Confucius sendiri diapit oleh makam istrinya dan anak serta cucunya. Makam anaknya, Kong Li, berada tepat di samping makam Confucius. Kong Li wafat sebelum Confucius dan dinobatkan sebagai Keturunan Generasi Kedua oleh marga/klan Kong.
Para pengikut Confucius mempercayai bahwa Confucius merupakan utusan Tuhan dari Surga yang dikirim ke Bumi untuk memberikan pencerahan kepada manusia.
Hal ini dipercayai karena kebijaksanaan dan kecerdasan spesial yang dimiliki oleh Confucius yang membuatnya lebih daripada orang lain, walau Confucius sendiri tetap diyakini hanya sebagai manusia biasa. Setelah penjelasan singkat tersebut, kami tutup kegiatan hari ini dengan berbelanja souvenirs di area perbelanjaan sekitar tempat pemakaman.
Untuk diketahui, Maya Trisia Wardani, S.Si., M.M, mengikuti Training Program in China for Excellent Teachers of MOEC Republik of Indonesia, atas kerjasama antara pemerintah Republik Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok, berlangsung tanggal 26 Februari hingga 27 Maret 2019. (yus)