Perguruan Tinggi

Visiting Professor Unila Dorong Guru dan Mahasiswa Ciptakan Pembelajaran Sains Lebih Kreatif


SMARTNEWS.ID – Penguatan pendidikan sains tidak cukup hanya melalui teori. Guru dan calon guru perlu diberi ruang untuk mencoba, menciptakan, berkolaborasi, hingga menemukan solusi dari persoalan pembelajaran.

Pesan tersebut mengemuka dalam agenda Visiting Professor rangkaian Leading University Project for International Cooperation (LUPIC) yang digelar Universitas Lampung (Unila), Jumat, 28 Agustus 2026.

Kegiatan yang melibatkan Program Studi Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila tersebut menghadirkan Direktur LUPIC Sogang University Korea Selatan, Prof. Won Koo Lee, serta Prof. Dr. H. Asep Kadarohman, M.Si. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Dua materi utama disampaikan dalam kegiatan tersebut. Prof. Won Koo Lee membawakan Introduction to the LUPIC Project, sedangkan Prof. Asep Kadarohman memberikan Small-Scale Chemistry (SSC) Workshop.

Prof. Won Koo Lee menjelaskan LUPIC merupakan program kerja sama yang diarahkan untuk memperkuat pendidikan sains, meningkatkan kompetensi calon guru, serta mengembangkan kapasitas guru melalui pendidikan dan pelatihan.

Program tersebut juga mendorong keterlibatan perguruan tinggi, guru, sekolah, dan mitra pendidikan dalam menciptakan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Menurut Prof. Won Koo Lee, pembelajaran sains perlu memberikan pengalaman langsung kepada peserta didik agar mereka tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga terbiasa membuat, mencoba, mengembangkan gagasan, dan memecahkan masalah.

“FABLAB bukan hanya tempat untuk membuat sesuatu, tetapi juga ruang untuk belajar, berkolaborasi, mencoba ide, dan menemukan solusi melalui proses nyata,” ujarnya.

Ia menilai kolaborasi antara perguruan tinggi, guru, sekolah, dan mitra pendidikan menjadi bagian penting dalam memperluas inovasi pembelajaran sains.

Sementara itu, Prof. Asep Kadarohman memperkenalkan pendekatan Small-Scale Chemistry melalui praktik eksperimen menggunakan bahan dan peralatan dalam skala lebih kecil.

Pendekatan tersebut memungkinkan praktikum kimia dilakukan secara lebih praktis dan efisien karena menggunakan bahan dalam jumlah lebih sedikit. Penggunaan bahan yang lebih minim juga berdampak pada berkurangnya limbah hasil praktikum.

“Small Scale Chemistry memberikan kesempatan kepada siswa untuk tetap melakukan kegiatan eksperimen dengan penggunaan bahan yang lebih sedikit, tetapi tetap memperoleh pengalaman belajar yang bermakna,” kata Prof. Asep.

Menurutnya, eksperimen skala kecil juga dapat menjadi bagian dari penerapan pembelajaran kimia berkelanjutan. Fenomena kimia tetap dapat diamati meskipun bahan yang digunakan diminimalkan.

Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan prinsip kimia hijau yang mendorong penggunaan bahan secara lebih efisien dan pengurangan limbah dalam proses pembelajaran.

Agenda Visiting Professor kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab bersama peserta. Forum tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai penguatan pendidikan sains melalui LUPIC sekaligus penerapan Small-Scale Chemistry dalam pembelajaran kimia. (***)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close
Close