Nasional & Internasional
Akurasi Rapid Test Kurang Bisa Diandalkan Deteksi Covid-19
SMARTNEWS.ID — Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro menyatakan rapid test kurang bisa diandalkan sebagai bagian deteksi virus corona (Covid-19).
Menurutnya, rapid test hanya difokuskan untuk proses screening. Sehingga tingkat akurasinya terkadang tidak bisa diandalkan untuk menjadi bagian dari testing.
Rapid test memang sensifitasnya tinggi, tapi spesifitasnya yang kurang tinggi. Sehingga rapid test hanya difokuskan screening,” kata Bambang dalam rapat terbatas laporan Komite Penanganan Covid-19 yang digelar virtual, Senin, kemarin.
Dia mengatakan, pascadiluncurkan alat rapid test pada Mei 2020 lalu, produksi di Indonesia sekitar 350 ribu per bulan. Ia memrediksi bulan depan bisa mencapai satu hingga dua juta per bulan.
“Produksi alat ini dilakukan tiga hingga empat perusahaan swasta. Tiga sudah memulai, ditambah perusahaan ke empat. Kita berharap bisa mencapai dua juta perbulan,” katanya.
Tingkat Akurasi GeNose Tinggi
Kesempatan itu, dia menyebut alat tes Covid-19 milik milik Universitas Gadjah Mada (UGM), GeNose, punya tingkat akurasi tinggi daripada tes swab Polymerase Chain Reaction (PCR).
Kesimpulan itu berdasar hasil uji klinis tahap pertama di rumah sakit. Bahkan katanya tingkat akurasi alat tersebut mencapai 97 persen. “kita sudah uji klinis pada RS di Yogyakarta,” ujarnya.
Menurut dia, GeNose UGM bisa menjadi solusi mengurangi ketergantungan terhadap PCR test.
“GeNose ini intinya mendeteksi keberadaan virus Covid-19 menggunakan embusan napas,” ujarnya.
Saat ini, tambah dia pemerintah tengah mengembangkan alat tes tersebut untuk uji klinis tahap berikutnya. Uji klinis dilakukan lebih luas di berbagai rumah sakit.
“Sehingga kalau tingkat akurasnya tinggi mendekati 100 persen, maka GeNose bisa jadi solusi screening yang nantinya akan mengurangi ketergantungan terhadap PCR test,” kaya dia. (MCI)